Rabu, 21 Januari 2009
brkhusnudzan pd ALLAH
tp,seorng muslim tdk blh brprasngka buruk pd Allah.cb bc QS.Al-baqarah:216....uda d bc qur'anny masing2?
apa2 yg trjd pd diri qta,baik ato buruk,trimalh tanpa prnh skalipn mnyalahkn siapapn,trmasuk Allah swt.gmn crnya?smua pasti uda tau,tp kdng bnyk yg lupa...;-)
it's the first time
jd tlisan2 sy brikutnya yg ky bhs sms brarti sy tulis lewat media HP soner K608i. so...harap maklum ya
Jumat, 09 Januari 2009
tentang konsistensi perbuatan....
Seekor burung dalam membangun sarang tidak seperti manusia yang cukup membangun rangka, mengaduk semen, mencampurnya dengan batu dan pasir, ditutupi dengan batu bata dan genteng, sudah!
Seekor burung membangun sarangnya dari ranting-ranting kecil yang dia temui ditanah. Dia cari ranting-ranting yang terjatuh dari pohon. Dia ambil satu, kemudian terbang ke tempat dia membangun sarang, dan menaruhnya disitu. Kemudian dia terbang lagi mencari ranting lainnya, dan kembali melakukan hal yang sama, berulang-ulang. Satu persatu dia susun dengan hanya menggunakan paruhnya yang mungil. Dia tata sedemikian rupa hingga akhirnya sarang tersebut nyaman dia jadikan tempat tinggal. Mahasuci Allah yang telah menginspirasi seekor burung yang tak berakal untuk membangun sarangnya layaknya seorang arsitektur.
Contoh lain? Tahu binatang bernama berang-berang? Pasti tahu donk yah. Dia tinggal di sekitar sungai. Dalam membangun sarang dia cukup unik. Pertama dia membendung aliran sungai dengan menebang sebuah pohon kecil dengan giginya. Dia taruh beberapa batang, kemudian dia cari ranting-ranting yang kemudian disusun diatasnya. Kemudian dia menambalnya dengan lumpur yang di tepuk-tepuk dengan ekornya. Tidak itu saja, bahkan dia membangun ruang-ruang didalam bendungan tersebut. Sekalilagi, Maha Suci Allah yang telah menginspirasi berang-berang tadi.
Sekarang ayo kita berbicara tentang sikap konsisten kita akan suatu perbuatan.
Coba kita lakukan hal ini: kita tabung uang kita secara cicil 100 rupiah perhari kedalam sebuah celengan. Hanya seratus rupiah, tidak lebih. Ada yang bisa? Untuk beberapa hari pertama mungkin hal itu bisa kita lakukan. Kita tabung uang kita seratus...seratus...seratus...
Tapi menginjak beberapa hari setelahnya terkadang timbul dalam pikiran kita, "Ah, langsung aja ah saya tabung seribu rupiah. Jadi sampai 10 hari kedepan saya gak usah nabung 100-100 lagi". Nah, disinilah mulai timbul ketidak konsistenan kita.
Begitu juga dalam hal perbuatan baik. Misal: Waktu Ramadhan kemarin. Kita berazzam dalam diri untuk mengkhatamkan Al-qur'an dalam waktu sebulan. Berarti kurang lebih kita membacanya 1 juz perhari, atau 2 lembar selepas sholat fardhu. Tapi, karena banyak hal, banyak dari kita yang lagi-lagi tidak konsisten dengan mengumpulkan bacaan kita di satu waktu. Hingga akhirnya kita lelah dalam bacaan kita yang justru jadi tidak khidmat. Dan mungkin saja target tadi tidak tercapai.
Padahal kita ini manusia, yang diciptakan Allah SWT dengan akal. WHY?
Di kelompok pertemuan mingguan saya dengan teman-teman halaqoh, kami mencoba untuk konsisten melakukan amalan-amalan kebaikan. Dan karena sifat manusia yang sering lupa dan khilaf, kami membuat suatu perjanjian. Satu ikhwah mengingatkan untuk agenda tilawah, satu ikhwah lain ditugaskan untuk mengingatkan agenda shaum sunnah, yang lain lagi mengingatkan untuk sholat sunnah, dan lain untuk ibadah yang lain. Ini kita lakukan, karena upaya kita untuk konsisten secara individu kadang sulit.
Sekedar mengingatkan, sebuah amalan, walaupun kecil, jika dilakukan secara konsisten akan bernilai luar biasa di mata Allah. Dan bisa jadi justru hal kecil tadilah yang akan memberatkan timbangan amal kebajikan kita di hari perhitungan nanti.
Rabu, 07 Januari 2009
insyaAllah jadi touring lagi...
| Start: | Jan 24, '09 06:00a |
| End: | Jan 25, '09 5:00p |
| Location: | salah satu pulau di kepulauan seribu |
Selasa, 06 Januari 2009
sebuah dialog tentang kaya-miskin
“Perbedaan kaya dan miskin itu tipis bung!”.
aku tersentak ketika mendengar pembicaraan orang dimeja depanku. Yap benar, orang itu tidak berbicara denganku. Tapi dia berbicara dengan seseorang yang bersamanya. Aku bukan bermaksud menguping pembicaraan orang lain. Tapi siapa suruh berbicaranya kelewat keras.
”Apa maksudmu?”,kata lawan bicaranya.
“Tipis, asalkan jangan pakai patokan harta”
Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan orang pertama tadi. Kenapa kaya dan miskin berbeda tipis? Dan apa sebenarnya patokan dari kekayaan seseorang?
”Menurutmu, berapa besar sih harta seseorang sampai dia bisa mendapatkan predikat kaya raya?”, tanya orang pertama kepada orang kedua.
”Mmm…lah kok nanya ke aku? Aku sendiri bingung. Megang duit lebih dari seratus ribu aja blom pernah, apalagi berjuta-juta. Kalau kamu nanya ke aku berapa harta seseorang sampai di bisa disebut kaya raya, tentu saja aku tidak tahu”
”Terus kamu pasti tahukan kriteria orang miskin itu seperti apa? eit jangan dijawab dulu. Yang kuminta kriteria orang miskin, bukan fakir miskin yah.”
”Kalau itu tentu saja aku tahu. Kalau fakir miskin itu kan yang gak punya pekerjaan kan?”
”Oke, kamu paham. Sekarang bagaimana kriteria orang miskin menurut kamu”
Kulihat orang kedua berpikir, keningnya berkerut menandakan dia sedang memeras otaknya untuk menemukan jawaban pertanyaan orang pertama. Aku juga jadi ikutan berpikir. Kriteria orang miskin itu apa yah?Baru saja mulutku ingin ikutan nimbrung dalam pembicaraan, orang kedua keburu angkat suara.
”Oke, kujawab langsung. Kriteria orang miskin menurutku adalah orang yang tidak pernah tercukupi kebutuhan hidupnya walau bagaimanapun dimemeras keringatnya. Dengan kata lain, serajin apapun dia, penghasilannya tetap tidak cukup. Bener gak?”
Mmm bener juga yah. Ya tadi aku juga pengen ngomong begitu.
”Yah kurang lebih begitu deh. Nah berarti kalau kriteria orang kaya adalah kebalikan dari kriteria orang miskin yang kamu katakan tadi. Setuju gak?”
”Bisa juga sih…”
Sampai orang kedua tadi aku sedikit tidak menyimak karena ada motor yang ngebut dengan knalpotnya yang meraung-raung. Kusumpahin aja biar celaka. Eh, astagfirullah. Ya ampun, masa aku do’ain orang biar celaka sih. Tapi aku rada kesel kalau denger suara raungan motor yang kelewat cempreng seperti tadi.
Setelah suasana kembali seperti sedia kala. Kupasang lagi kupingku. Kali ini orang pertama bertanya lagi ke orang kedua. ”Terus kebutuhan hidup kamu selama ini tercukupi gak?”
”Mmm…kadang-kadang sih nggak. Terkadang aku ingin beli ini itu, tapi selalu mikir-mikir
dulu. Takut gak cukup uangku sampai habis bulan”
”Tapi kamu selama ini gak selalu ngutang di warung mbok nah kan?”
”Yee…aku sih kalau beli nasi di warung mbok nah selalu bayar”
”Berarti kamu kaya donk…?”
”Ah…gak juga.”
”Lah…kebutuhan hidup kamu kan selalu tercukupi. Kamu gak pernah ngutang atau mengemis minta makan. Walaupun kamu juga harus menahan diri untuk membeli barang-barang keinginanmu. Tapi barang-barang yang ingin kamu beli aku yakin bukan barang primer dan
sekunder kan? Berarti kamu kaya”
”Tunggu-tunggu. Aku jadi punya pandangan baru tentang kriteria orang kaya raya. Oke,
kamu bisa sebut aku kaya. Tapi bukan kaya raya. Kalau kaya raya, apapun barang yang diinginkannya, maka dia akan sanggup membelinya.”
”Wo…wo…wo, kalau aku malah lain. Kalau orang kaya raya menurutku adalah orang yang bingung bagaimana cara menghabiskan uangnya. Karena mau dibelanjakan berapa kalipun malah gak habis-habis. Itu baru orang kaya raya.”
“Oke-oke, terserah kamu saja. Terus tadi diawal kamu bilang. Kaya dan miskin itu beda tipis. Kalau dari kriteria-kriteria tadi kok aku melihat ada ruang pemisah yang lebar banget!”
”Makanya aku juga bilang jangan pake patokan harta”
Orang kedua mengangguk-anggukkan kepala sambil bergumam. Orang pertama menghentikan omongannya sejenak sambil mengangkat gelas berisi air berwarna hitam pekat ke bibirnya yang berhiaskan sedikit jenggot di dagunya. Belum selesai orang pertama menyeruput minumannya. Orang kedua angkat suara lagi.
”Ya udah, jelasin donk maksud itu. Kenapa kaya dan miskin itu hanya berbeda tipis?”
”Yang ku bilang kaya dan miskin kan? Bukannya kaya raya dan miskin. Begini maksudku. Sekarang kamu pasti tahu, kalau ada orang miskin yang saking miskinnya dia gak punya uang sama sekali. Terus dia bekerja tapi tetap saja kebutuhannya tak terpenuhi. Boro-boro soal kebutuhan tersier. Kebutuhan primer dan sekunder pun kadang dia masih bingung.”
”Mmm….terus?”
”Nah, terus kamu tahu donk bagaimana cara dia memenuhi kebutuhannya?”
”Biar kujawab. Kalau orang miskin itu orang yang taat beragama, pasti dia akan bersabar dan terus berusaha.” lamat-lamat orang kedua memaparkan jawabannya. Dengan berhati-hati orang kedua melanjutkan jawabannya, ”Kalau dia orang yang gak begitu taat, paling jadi
tukang minta-minta…”
”Dan kalau orang miskin itu bejat, pasti jadi pencuri, garong, copet dan sejenisnya!”, sambar orang pertama.
”Yah…biar saya donk yang jawab! Curang nih!”
“Abis ngomongnya pelan banget!” kata orang pertama.
“Takut salah! Hehehehe…oke lanjut, sekarang kamu teruskan pemaparan presentasi kamu”
”Yee…kamu udah kaya dosen aja ngomongnya. Oke kulanjutkan. Sekarang begini, kamu pasti tahu kan keadaan orang kaya bagaimana. Apa-apa pasti tercukupi. Tapi. Ada tapinya nih…”
”Iye…iye langsung aja! Gak usah ngegantung gitu. Bikin orang penasaran aja sih? Gimana kalo tiba-tiba aku mati dalam keadaan penasaran begini? kamu mau aku gentayangin, hah?”
”Hehehe…penasaran juga kamu. Begini loh, tapi ada juga orang yang secara materi dia
kaya. Rumah ada, mobil berjejer, makan minum gak usah ditanya lagi deh. Tapi…” orang pertama lagi-lagi menggantung pembicaraannya. Pintar sekali dia membuat orang kedua tambah penasaran. Ya, termasuk aku juga yang dari tadi berhasil menguping pembicaraan mereka berdua tanpa diketahui.
”Eh, kamu nih! Mau kena bogem mentah dari orang yang penasaran yah?”
”Hehehe… jangan marah donk. Aku sengaja bikin kamu penasaran biar kamu menyimak dengan jelas arah pembicaraanku.”
”Dasar sableng!”
”Lanjut lagi…begini loh temanku. Ada juga yang secara materi kaya, tapi kebutuhan dia juga gak tercukupi…”
“Loh kok bisa? Kan dia orang kaya?” orang kedua memotong pembicaraan orang pertama dengan gesitnya.
”Tuh kan, sekarang gantian kamu yang main samber aja!”
”Hehehehe…maaf-maaf!, ah gitu aja ngambek…”
”Lanjut gak nih…?”
”Lanjuuut!”
Akhirnya orang pertama melanjutkan perkataannya.
”Orang kaya model gini sebenernya punya uang sudah melimpah di bank-bank konvensional yang ada. Tanpa memeras keringat pun sebenarnya uang akan datang sendiri. Tapi kamu tahu? Dia juga ikut-ikutan orang miskin yang bejat tadi. Mencuri, merampok, nyopet juga!”
”Ah, becanda…mana ada orang kaya nyopet, merampok bank, mencuri? Gak ada itu…”
Aku juga gak percaya kalau ada orang kaya yang seperti itu. Masa dia udah punya pekerjaan
mapan, tapi masih juga ikut-ikutan merampok? Tapi aku teringat dengan bob hasan, edi tansil, syamsul nursalim, tommy soeharto, para jaksa di kejagung, dan lain-lain…mungkinkah mereka itu masih miskin? Baru saja aku ingin mendengar lanjutan pembicaraan mereka, tapi sayang alarm HP-ku berbunyi. Ternyata aku hanya bermimpi...
