si mpunya lembaran putih

Minggu, 05 September 2010

Menangislah Untuk Ramadhan

Jika saja kita bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubarimu. Bahwa Ramadhan bergegas diakhir hitungan. Dan tadarus quranmu tak juga beranjak pada juz kesekian...

Jika itu adalah merupakan awan tekadmu untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lailmu yang centang perentang.

(ah, pasti kamu masih ingat obrolan tadi siang ketika dengan senyuman manisnya seorang temanmu berucap, "Alhamdulillah tarawihku belum bolong" dan kamu merasa ada malaikat yang menjauh darimu dan pindah kepadanya. Kamu merasa sendiri, terasing)

Menangislah,.....Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir.Bahwa ada suatu hamba Allah yang bodoh,lalai,sombong lagi terlena.

Yang katanya berdoa sejak dua bulan sebelum ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak rajab, yang katanya rajin mengikuti taklim tarhib ramadhan, yang katanya...yang katanya...

Tapi....,,tapi sampai hari-hari terakhir ramadhan, masih juga mengunjingkan kekhilafan teman ruanganmu, masih juga tak bisa menahan ucapan dari kesia-siaan, tak juga menambah ibadah sunnah...Bahkan hampir terlewatkan menunaikan ibadah yang wajib.

Menangislah....,Lebih keras...,,,karena kita tidak pernah tahu, apakah Allah mengizinkan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah kamu masih disertakan, atau bahkan apakah kita sempat merasakan lebaran, kita tidak tahu. Sedangkan Ramadhan sekarang cuma tersisa beberapa hari. Tak ada yang dapat menjamin usiamu sampai untuk Ramadhan besok, sedang Ramadhan ini tersia-siakan.

Menangislah....,,,

Dan tuntaskan semuanya disini, malam ini. Karena Besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Tahu-tahu sudah hari-hari terakhir dan kamu belum siap untuk itikaf. Atau jikapun kamu sempatkan untuk dirimu, berdiam diri dalam masjid-masjid jami, tapi kau lebih banyak meluangkan waktu untuk mengobrol dengan rekan sejawatmu, dan hanya sedikit yang kau sempatkan waktu untuk Tuhanmu, Allah swt.

Tuntaskan semuanya disini, malam ini. Karena entah apakah esok masih kau jumpai mentari yang bersinar, entah apakah masih ada sedikit nafas untuk lembar-lembar Quran yang menunggu untuk di khatamkan. Entah apakah masih tersisa harta keping-keping mata uang yang menunggu disalurkan. Dan apakah masih bisa kau jumpai sepertiga malam yang menunggu untuk dihiasi sholat tambahan.

"SEKARANG ,,,ATAU (MUNGKIN) TIDAK ADA LAGI SAMA SEKALI....."

(dari milis kantor, dengan sedikit tambahan disana-sini)

Kamis, 22 April 2010

Sandal Jepit Istriku...^_^

note: ini saya dapat dari milis kantor, copas dari postingan teman yang copas juga dari tulisan temennya, jadi yah...kita ber-copas ria deh...ah, baca aja deh...^_^


~~~***~~~


Sandal Jepit Isteriku

 

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

 

"Ummi... Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

 

"Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

 

"Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!" Jawabku masih dengan nada tinggi.

 

Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

 

*******

 

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

 

"Ummi... Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ummi... isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?"

 

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah...wanita gampang sekali untuk menangis," batinku. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

 

"Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

 

Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

 

********

 

Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Mi... Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku.

"Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku.

"Lho, kok bilang gitu...?" selaku.

"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi.

 

"Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.

 

*******

 

Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin.

 

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. "Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

 

"Maafkan aku Maryam," pinta hatiku.

 

"Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidah (*) ku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

 

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya."

 

Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

 

"Maryam...!" panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

 

"Abi...!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.

"Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

 

******

 

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu...," ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

 

Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan 'iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

 

(Oleh : Yulia Abdullah)

 

Keterangan

(*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad

(**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu

(***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu

Jumat, 26 Maret 2010

Arti Pentingnya "KERJA"

note: "tulisan ini aku dapat dari milis internal kantorku...tanggal2 segini pasti banyak di antara kita yang baru gajian, dapet upah, atau apalah namanya. Semoga bisa menjadi pengingat bagi teman2 semua...so...silakan baca!!!"


~~~***~~~
Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan
iapun menyantap makanan yang telah dipesan.
Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki
menjajakan kue kepada pemuda tersebut, “Pak mau beli kue, Pak?”
Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab “Tidak, saya sedang makan”.

Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama.
Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut
menjawab “Tidak dik saya sudah kenyang”.

Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung
kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang
sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda.
Mungkin anak kecil ini berpikir “Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada
bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah”.

Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk
menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.

Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil
penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan.
“Pak mau beli kue saya?”, pemuda yang ditawarkan jadi risih juga
untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan
uang Rp 1.500,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.

“Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya
ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik”.

Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada
pengemis yang sedang meminta-minta.
Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah
dikasihkan kepada orang lain.

“Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?”.

Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, “Saya sudah berjanji
sama ibu di rumah, ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi
pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu
kalau kue buatan ibu terjual habis.
Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya.
Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis”.

Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak
kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang
anak yang sudah punya etos kerja bahwa
“kerja itu adalah sebuah kehormatan”, kalau dia tidak sukses
bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan
ibunya mempunyai nilai yang kurang.
Suatu pantangan bagi ibunya, bila anaknya menjadi pengemis,
ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum
menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus
ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.

Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki
kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena
prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu “kerja adalah sebuah
kehormatan”, ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan
baik.

CATATAN :
Semoga cerita di atas bisa menyadarkan kita tentang arti pentingnya
kerja. Bukan sekadar untuk uang semata. Jangan sampai mata kita
menjadi “hijau” karena uang sampai akhirnya melupakan apa arti
pentingnya kebanggaan profesi yg kita miliki. Sekecil apapun profesi
itu, kalau kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan berarti
besar.

Rabu, 24 Februari 2010

use your brain before its unused anymore...

Maaf-maaf, judulnya pake bahasa inggris, bukannya gak pede pake bahasa indonesia...(buktinya nih pake bahasa indonesia juga...)
Ada anekdot yang mengatakan, otak orang indonesia tuh harganya mahal. Bahkan lebih mahal daripada otak orang jepun atau amrik sekalipun. Dan otak yang harganya paling murah adalah otaknya einstein. Teman-teman pasti sudah tau jawabannya. Yup, itu karena otak orang indonesia masih orisinil, masih baru, jarang di pake...sedangkan otak orang jepun, amrik dan einstein udah bekas semua...(jangan tersinggung ya, karena ini anekdot lama...)
Ngomong-ngomong tentang otak. Otak yang paling enak adalah yang dijual di resto-resto padang...(pas aku nulis gini, pasti ada temenku yg protes, "kesukuan!" begitu mungkin kata dia...hehehehe...)

Duh, aku mo nulis apa sih sebenarnya...(maaf, kebanyakan prolog, lagi mo mencoba konek antara jari dan pikiran yang sedang kebanyakan ide...)

Okeh, mungkin teman-teman blom tahu, klo daya otak orang indonesia itu lebih hebat daripada otak orang-orang luar. Dalam satu sesi doa pagi di kantorku, manajer marketing di kantorku berbicara : "Jangan salah, justru orang-orang Indonesia itu lebih dipercaya oleh orang-orang luar negeri. Otak orang indonesia lebih hebat dari otak bangsa apapun. Kita pekerja cerdas dan pekerja keras. Daya tahan kita dalam menghadapi masalah lebih mantap. Satu kekurangan kita adalah...(pen:duh masih ada kekurangannya...), segala macam ide yang ada di otak orang indonesia, tidak di aplikasikan kedalam kerja tim. Kita terlalu malu dalam mengungkapkan pendapat"

Yup, banyak dari kita yang hanya diam ketika dalam sesi diskusi. Sibuk berpikir mungkin. Seringkali aku mendapati teman-teman satu organisasi dulu, baru mengeluarkan pendapatnya ketika sesi rapat berakhir. "Bar, mendingan kita begini-begitu-segala macem...bla...bla...bla...
" (Aku sering ngomong dalam hati, "kenapa tadi gak ngomong?")

Kenapa bisa begitu? Manajer marketingku bilang, "itu karena pola pendidikan di negeri kita salah. banyak dari kita yang malu mengeluarkan pendapatnya karena takut tertawakan karena idenya biasa saja. Padahal bisa saja, dari ide yang biasa itu, tercetus ide yang lebih hebat"

Coba kita ingat ketika dulu kita masih di bangku sekolah menengah. Ketika guru kita berkata,"anak-anak,ada yang mau bertanya?" dijamin, semuanya pada duduk yang manis tangan dilipat yang rapi sambil memasang tampang sok ngerti (begitu pun aku dulu...T_T...)

atau ketika dalam sesi rapat organisasi, si pemimpin rapat bertanya,"baik ada yang mau mengeluarkan pendapatnya?" dan semua peserta rapat hanya berbicara berbisik satu dengan yang lain sambil mendorong,"elu donk ngomong..."

ada juga yang berpikiran, "ah...nanti klo gw yang ngomong ngeluarin pendapat, ntar gw lagi yang ditunjuk jadi ketua pelaksana...ogah ah..."

Ada pertanyaan, kenapa kita bisa mengantuk. Ada yang menjawab secara ilmiah,"ngantuk disebabkan karena otak kita kekurangan asupan oksigen. Sehingga ketika asupan oksigen itu kurang, otak kita akan memerintahkan mata untuk terpejam"

Kalau aku jawabnya, "kita mengantuk karena otak kita tidak dipake!"
Mengantuk disini maksudnya bukanlah pada saat malam hari kita mau tidur. Tapi pada saat di siang hari bolong ketika kita hanya bengong-bengong gak jelas.

Seperti halnya sebuah komputer, ketika kita tidak menggunakannya untuk beberapa saat, maka sistemnya akan memerintahkan layar monitor untuk padam. Jika kita diamkan lagi beberapa saat, maka sistemnya akan masuk menjadi posisi "standby"...untuk kemudian berangsur 'off' sendiri.

Sistem otak kita adalah satu sistem yang sangat luar biasa. Sistem otak kita terdiri dari sel-sel yang terus tumbuh dan berkembang. Dan ketika ada sel-sel yang tidak pernah digunakan, maka sel itu akan mati dengan sendirinya. Begitu sebaliknya, semakin sel-sel otak itu digunakan, dia justru semakin fresh dan kuat. Mo bukti? dateng aja kerumah nenekku di bilangan BSD. Nenekku yang berumur 70 tahun lebih itu masih aktif layaknya wanita berumur 40 tahunan. Dia mengelola satu koperasi berbasis syariah disana. Dan sampai saat ini beliau masih terlihat segar untuk nenek2 berumur 70an.
Atau...ibuku...beliau yang sekarang berumur genap setengah abad, masih aktif seperti layaknya wanita berumur 25 tahunan. Dia masih aktif merias pengantin, bikin kue dan masakan lezat, bikin seserahan untuk lamaran, dll. Bahkan masih terlihat cantik sampai saat ini. Dia jarang sakit walaupun sesibuk apapun. Buktinya? beliau masih bisa aktif ngomelin aku klo aku rada bengal...hehehehe...

Atau yang mungkin teman2 lebih kenal lagi. Nabi Muhammad SAW, pada saat haji wada, di padang arafah, dia pernah berpidato dari selepas subuh sampai menjelang zuhur, kemudian masih lanjut sampai menjelang ashar, dengan pidato yang tidak membuat bosan umatnya. Pidato yang sangat berapi-api dan terus di kenang. Padahal saat itu dia sudah berusia 60an.

Semua itu tidak lain karena mereka mengaktifkan kerja otaknya dalam bentuk nyata. Tidak saja dalam bentuk pikiran individu. Yang berkutat di seputaran kepala saja tanpa berhasil dikeluarkan dalam aksi nyata.

Yah, tulisan ini mungkin hanya sedikit pengingat kalau otak kita adalah benda terindah yang dianugerahkan Allah SWT pada kita. Otak kita inilah yang membedakan kita dari makhluk-makhlukNya yang lain. Semoga kita masih bisa terus mengaktifkan dan mengoptimalkan kerja otak kita...Aamiin...

(sebuah tulisan yang terlintas ketika sedang berkendara motor dengan seorang sahabat...)

kisah awalku berkarir di Bank Syariah "Ternama" di Indonesia...^_^

(note dari penulis: "sebetulnya ini tulisan udah di buat dari tanggal 14 januari kemaren, tapi di publish bukan di MP, tapi di situs pertemanan yang lagi rame itu lho...hehe)

~**~
14 januari 2010
Hari ini tepat setahun sudah aku merasakan ujian hidup sesungguhnya.
Ketika aku lepas dari tanggungan orangtuaku, dan mencoba menghidupi diriku dengan hasil kerjaku. Ketika aku memutuskan untuk hidup sebatangkara jauh dari keluarga. Berat, tapi inilah pilihanku. Ketika jalan kecil itu terbentang, aku dihadapkan pada pilihan, apakah aku harus terus melaluinya atau menunggu jalan lain yang belum tentu ada.

~**~

Setelah ada serangkaian seleksi yang berminggu-minggu, akhirnya...

6 januari 2009, sore hari.
Aku ditelepon oleh HRD tempatku bekerja sekarang.
Assalamualaikum, bisa berbicara dengan pak maulana araita akbar?"
"Iya, saya sendiri. Ini darimana?"
"Saya Ilham, dari Bank Syariah "Ternama" (edited by author, gak dapet sponsor...^_^...) cabang tangerang. Besok bisa hadir untuk wawancara dengan kami?"
"Besok? alamatnya?" (dan cerita berlanjut dengan aksi tulis menulis alamat kantor cabang Bank Syariah "Ternama" tersebut. Sekalian kutanya petunjuk arahnya)
Selesai menerima telepon itu, aku langsung lari ke kamar orangtua untuk mengabarkan kabar tersebut. Terpancar raut bahagia dari wajah ibuku. Ayahku yang seorang psikolog itu langsung membesarkan harapanku. "Bar, insyaAllah, klo uda wawancara akhir dengan user, kamu diterima. Sekarang perbanyak lagi doanya"

~**~

7 januari 2009, pagi-pagi sekali aku sudah bersiap. Berbekal alamat yang diberi HRD kemarin, aku pun menumpang bis jurusan senen-cimone bernomor 67. Di dalam mobil ber-AC itu aku terus berupaya berdoa sambil terus berharap2 cemas. "Ya Allah, semoga ini pencarian terakhirku. Semoga hamba diterima Ya Allah"
Tapi karena baru sekali itu menginjakkan kaki ke tangerang, aku tidak begitu paham dengan patokan2 yang dikasih. Tak disangka, bis yang kutumpangi tidak masuk ke terminal cimone, tapi langsung mo berbalik ke jakarta. Aku bertanya ke kondekturnya, "Pak, saya turun di terminal cimone, masih jauh ga ya pak"
"Wah, dek. Kita dah mau balik lagi ke jakarta. Kita emang gak masuk ke terminalnya. Adek turun aja, terus lanjut dengan angkot warna biru itu"
Aku pun turun dari bis itu sambil berucap terimakasih. Entahlah, seperti ada yang menggerakkanku untuk bertanya ke kondektur seperti tadi. Entah kalau aku tidak bertanya, mungkin aku masih berada di bis itu dan malah kembali ke jakarta...fiuh...
Aku pun naik ke angkot biru (yg kulupa jurusan dan nomornya). Aku hanya bilang ke sopirnya, "Pak, lewat jalan merdeka?"
"Ya, naik aja dek, mau turun dimana?"
"Di kantor cabang Bank Syariah "Ternama" pak"
"ooo...ya.ya....nanti saya kasih tau klo dah deket"
Dan aku pun melanjutkan perjalananku di tempat yang masih sangat asing itu sampai akhirnya aku pun sampai di kantor cabang Bank Syariah "Ternama" tersebut.
Aku bertemu dengan pak Ilham, yang ternyata adalah seniorku waktu SMA dulu. Walau kita gak pernah bertemu sebelumnya, tapi karena satu angkatan, saya merasa tidak canggung lagi.
Saat itu tepat jam 9 pagi. Aku datang benar2 tepat waktu, karena aku janji datang jam 9. Alhamdulillah...
Yang mewawancaraiku saat itu adalah pak Adi Yuniar, manajer operasional berdarah padang, keturunan india. Sesuai saran ayahku sehari sebelumnya, aku menjabat tangan beliau dengan mantap.
Selesai wawancara yang tidak singkat itu, aku pun langsung kembali ke jakarta. Tidak lupa sebelumnya aku mengucapkan terimakasih telah memberikan kesempatan untuk diwawancara (ini pelajaran nomer ke sekian di buku tentang interview pekerjaan yang selalu kubaca dulu....hehe)
Di terminal cimone (akhirnya aku ketemu juga ama terminal cimone ini...XD) aku beristirahat sebentar di sebuah warung dengan memesan sebotol teh...(teh botol, yg ini bolehlah aku tulis...hihi...). Sejenak aku berpikir, apa disini, dikota tangerang ini, aku mendapatkan rezekiku?
Aku hanya berharap Allah memberikan yang terbaik untukku...

~**~

Setelah hari wawancara itu, aku tak putus2nya berdoa pada Allah. "Ya Allah, berilah hamba rezeki yang halal". Sampai akhirnya...
13 januari 2009, telepon rumahku berdering. Tapi bukan aku yang mengangkatnya. Yang mengangkatnya adalah pembantu rumahtanggaku. Saat itu aku tidak bisa mengangkatnya karena sedang ada keperluan di toilet rumah...(you know lah...^_^...)
Selesai dari keperluan di toilet, aku langsung bertanya ke pembantuku. Entah kenapa aku sensitif sekali ketika mendengar dering telepon, sampai2 HP-ku pun ku bawa kemana2 demi mendapat kabar dari perusahaan2 tempatku melempar lamaran.
"Mbak, tadi telepon dari siapa?"
"Gak tau mas, tadi sih nyari mas akbar, dari Bank apa gitu tapi saya lupa darimana..."
Saat itu aku berpikir, ah....paling nanti juga ditelepon lagi. Tapi berbeda dengan pikiran ibuku. "Bar, kamu aja yang telepon, ada nomernya kan?"
"Ah, nanti juga ditelepon ma..."
"Ya, mendingan kamu duluan aja yang nelpon. Buru gih, siapa tau rezeki kamu di situ...gih..." perintah ibuku lagi yang tidak bisa kutolak.
Aku pun menelepon nomer yang sudah kupegang. Yang mengangkat mungkin satpam kantor tersebut. Karena ketika aku bilang ingin berbicara dengan HRDnya, dia langsung mengoper ke orang yang dituju...
"ya..dengan ilham bisa dibantu?" begitu suara yang kudengar...
"pak ilham, saya akbar yang minggu lalu wawancara..." belum selesai aku berbicara, samar2 aku mendengar pak ilham memanggil pak adi..."pak, dari yang wawancara minggu lalu, diterima kan?" dan gak berapa lama, pak ilham kembali berbicara kepadaku..."nah, mas akbar, besok langsung kerja ya..."
Setengah gak percaya dengan bodohnya saya malah balik bertanya, "maksudnya?"
"Ya, mas kami terima untuk bekerja di tempat kami..."
Tak terasa seperti ada haru didalam hati ini...
Selesai pembicaraan lewat telepon itu, aku langsung ke kamar orangtua. "Ma, aku besok kerja..."
"Alhamdulillah..." ibuku langsung mencium keningku, dan aku pun mencium tangan ibuku itu..."makasih ya ma, doanya selama ini..."
Dan selanjutnya adalah....ibuku langsung nyebar2in info atas kabar gembira itu ke sodara2.....ah bahagia sekali melihat dia bahagia...
Kesibukan selanjutnya adalah persiapan bekalku besok. Ibuku langsung membelikanku beberapa potong baju.

~**~
14 januari2 2009, hujan deras mengguyur jakarta. Selepas subuh aku sudah bersiap untuk memulai perjalananku menjadi lebih dewasa. Dilepas dengan doa dari ibu yang membesarkan ku dengan cintanya. Diiringi dengan nasehat dari ayahku yang tumben2nya bisa bangun pagi2 buta...hehe...
Aku berjalan, dengan payung biru, di tengah awan kelam abu2...

Senin, 11 Januari 2010

Kebahagiaan sejati bukan disini kawan...(sebuah renungan...)

renungkan...
Apa yang kita rasakan ketika kita mendengar kabar bahwa besok gaji kita akan dinaikkan. Saya yakin pasti ada perasaan yang meluap-luap dari dalam diri kita. Kita jadi begitu senang dan gembira. "Wah besok naik gaji", "duh...akhirnya keinginanku beli BB bisa terwujud", "wah akhirnya bisa nyicil mobil", "bis sering-sering nraktir temen nih", dsb...dsb...mungkin begitu kata hati kita. Atau...
Apa perasaan teman-teman ketika hari jum'at sore, pasti ada semangat yang berbeda yang tiba-tiba muncul. "Bisa refreshing nih", "jalan-jalan ah...", "tidur sampe puas!", dsb..dsb...dsb...
Yah...begitulah kita ketika akan mendapatkan sebuah kenikmatan. Padahal kenikmatan itu belum benar2 hadir. Baru sebatas 'akan'.
Bisa dibilang itulah kesenangan semu. Kita senang karena mendapatkan kabar akan naik gaji, padahal peningkatan gaji itu pasti akan ditambah dengan peningkatan tanggung jawab atau target kerjaan. Dengan kata lain, NOL. Kita memang layak mendapatkan peningkatan gaji karena yah...target kerjaan kita juga ditingkatkan.
Begitu juga ketika kita akan mendapatkan jatah libur, entah itu libur panjang atau cuti. Saya yakin akan ada perasaan yang berbeda ketika hari minggu sore. Ada kemalasan yang tiba2 hadir dalam diri kita. "Ah, besok udah senin lagi, kerja lagi deh!" ya kan?
Aneh kan?
Memang aneh, karena manusia selalu berharap untuk selalu mendapatkan kenikmatan abadi. Padahal, setelah di dunia inilah sesungguhnya kenikmatan abadi itu akan kita rasakan.
Bagaimana cara mendapatkannya? Ah...pasti teman-teman sudah tahu kan?