Dalam perjalanan pulang dari tangerang ke jakarta pada hari jumat kemarin, di dalam bis kota jurusan cimone-senen, aku bertemu dengan seorang pekerja seni jalanan. Dia, seorang bapak tua dengan penampilan lusuh layaknya gelandangan. Rambut beruban dengan kumis yang tumbuh tidak tertata. Baju yang dekil dengan seruling bambu sebagai temannya sehari-hari. Tapi beliau mempunyai aura yang berbeda dari wajah tuanya itu. Senyumnya yang sungguh-sungguh tulus.
Di balik kerasnya laju kehidupan yang harus beliau jalani, ada satu prinsip yang tidak pernah dia hapus. Dia harus bisa membuat dirinya selalu tersenyum dan membuat orang lain tersenyum.
Akhirnya dia beranjak dari bangku sebelahku, dan bergeser ke tengah bis kota yang sedang kita naikin. Dan termainkanlah satu alunan nada yang berasal dari tiupan seruling bambu tadi. Kemudian dia membaca satu prosa yang cukup menggelitik.
Di antara deru bis kota yang bising, sayup-sayup aku mendengarkan dengan seksama prosa yang dia bawakan.
~~~***~~~
Senyum. Tidak ada yang sulit dari sikap tubuh yang satu ini. Kita cukup melengkungkan ujung-ujung bibir kita menjadi seperti bulat sabit dengan memperlihatkan sedikit geligi kita. Tapi tidak cukup itu saja. Mata pun harus pula ikut tersenyum. Tatapan harus hangat dan lembut. Hal itu justru akan menjadi sulit jika dalam pikiran kita berkecamuk beribu macam masalah yang terus menerus kita pikirkan. Raut wajah kita akan tertekuk. Dan apa akibatnya? Orang-orang sekeliling kita pun akan merasakan suasana muram dari kehadiran kita.
Teman satu kantorku mempunyai kebiasaan yang bagus. Tiap pagi dia akan menyapa orang-orang satu kantor, mulai dari OB, Satpam, dan rekan-rekan yang lain.Dia selalu bertanya kabar pada pagi itu. Saat itu aku pun merasakan, kehadirannya membuat kita menjadi ceria dan bersemangat menantang hari. Padahal cuma satu yang dia lakukan, melakukan semua itu sambil menambahkan senyum.
Saya pun mencoba melakukan hal tersebut. Setiap bersepeda pada pagi hari, setiap berpapasan dengan pengguna jalan lainnya, baik itu penjalan kaki atau pengendara sepeda lainnya. Aku selalu tersenyum. Dan ketika orang itu membalas senyum saya, saya merasa menjadi orang yang sangat-sangat bahagia pada pagi itu.
So, tersenyumlah. Karena senyum bisa menularkan kebahagiaan bagi orang lain
Sabtu, 16 Mei 2009
Minggu, 10 Mei 2009
Sebuah Kalimat Dalam Cincin Usang
Bagaimana sih cara agar kita bisa hidup bahagia? Sering kita menginginkan hidup yang terus menerus bahagia. Dan secara langsung kita juga tidak ingin hidup susah selamanya. Iya donk, manusiawi sekali jika ada pikiran seperti itu. Tapi...apakah memang harus seperti itu? Sungguh naif sekali jika kita, yang hanya manusia biasa serta lemah ini, menginginkan hal baik terus terjadi dan dilimpahkan Allah Swt pada kita. Dan oleh karena itu, seringkali kita diberi ujian oleh Allah Swt.
Suatu malam diberanda rumah kos-kosanku di daerah Tangerang. Sambil menyeruput secangkis kopi dan melihat gemintang yang menari-nari di gelap malam, seorang teman kos-ku curhat. Dia bercerita panjang lebar tentang situasi dan kondisi pekerjaannya. Dia merasa begitu mempunyai banyak masalah yang hadir bukan dari dirinya, tapi akibat perbuatan orang lain, sedangkan dia juga kena imbasnya. Beh, kasian ya?
Saat itu aku pun masih bingung, saran apa yang harus kukatakan agar dia merasa tenang. Aku cuma bisa membesarkan hatinya, kalau semua itu pasti akan berlalu.
Beberapa hari kemudian, aku mjenemukan sebuah cerita dalam satu kolom artikel. Begini ceritanya (with editing):
~~~***~~~
"Ada seorang raja di suatu negeri yang mempunyai penasehat yang sangat dia percayai. Dia sangat menyayangi penasehat tersebut bagaikan anaknya sendiri. Hal ini tentu saja tidak disukai oleh orang2 dekat sang raja. Mereka pun berusaha menyingkirkan si penasehat tadi. Mereka membisiki sang raja untuk menyuruh si penasehat mencari sebuah benda. Benda itu harus bisa membuat yang memakai "tidak terlalu senang ketika merasakan kegembiraan, dan tidak terlalu sedih ketika dalam kedukaan".
Kesana kemari si penasehat mencari benda tersebut. Ketika mendapatkan sebuah guci, dia memberikannya pada sang raja, tetapi sang raja masih merasa terlalu gembira ketika gembira dan terlalu sedih ketika sedih. Begitu juga dengan benda-benda lainnya. Pedang, Jubah, Berlian, Emas, dan lain sebagainya.
Dengan sedih, si penasehat menghadap raja. Memohon ijin untuk berkelana ketempat yang jauh untuk mencari benda yang dimaksud. Berbulan-bulan dia dalam pengembaraannya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang tua bijak yang memberikan sebuah benda. Sebuah cincin biasa. Dia memberikan cincin usang itu kepada si penasehat sambil berpesan :"Beritahu rajamu, ketika dia dalam keadaan senang atau sedih, tatap cincin ini"
Dengan langkah ringan dan hati yang gembira, si penasehat pulang menghadap sang raja. Setelah memberikan cincin usang tersebut, dia berlutut dan hanya dapat menatap lantai di hadapannya. Dia takut jika ternyata raja tidak puas dengan pekerjaannya itu. Ketika dia mencuri pandang ke arah raja, dia melihat seulas senyuman terpasang di bibir sang raja. Sang raja lalu berkata, "Anakku, benda seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang"...
~~~***~~~
Aku penasaran, mengapa sebuah cincin usang bisa membuat sang raja merasa puas. Aku pun membaca artikel tersebut sampai habis hingga akhirnya aku tahu jawabnya. Di dalam cincin tersebut ada sebuah kalimat yang harus kita baca ketika kita merasa senang atau sedih. Mau tau kalimat itu bertuliskan apaan? Dan seperti sang raja tadi, aku pun tersenyum ketika mengetahui bahwa tulisan itu berbunyi :"SEMUA AKAN BERAKHIR"
Aku pun juga yakin, begitu teman kos-kosanku itu kuceritakan artikel tadi, dia akan tersenyum lebar penuh keoptimisan.
Suatu malam diberanda rumah kos-kosanku di daerah Tangerang. Sambil menyeruput secangkis kopi dan melihat gemintang yang menari-nari di gelap malam, seorang teman kos-ku curhat. Dia bercerita panjang lebar tentang situasi dan kondisi pekerjaannya. Dia merasa begitu mempunyai banyak masalah yang hadir bukan dari dirinya, tapi akibat perbuatan orang lain, sedangkan dia juga kena imbasnya. Beh, kasian ya?
Saat itu aku pun masih bingung, saran apa yang harus kukatakan agar dia merasa tenang. Aku cuma bisa membesarkan hatinya, kalau semua itu pasti akan berlalu.
Beberapa hari kemudian, aku mjenemukan sebuah cerita dalam satu kolom artikel. Begini ceritanya (with editing):
~~~***~~~
"Ada seorang raja di suatu negeri yang mempunyai penasehat yang sangat dia percayai. Dia sangat menyayangi penasehat tersebut bagaikan anaknya sendiri. Hal ini tentu saja tidak disukai oleh orang2 dekat sang raja. Mereka pun berusaha menyingkirkan si penasehat tadi. Mereka membisiki sang raja untuk menyuruh si penasehat mencari sebuah benda. Benda itu harus bisa membuat yang memakai "tidak terlalu senang ketika merasakan kegembiraan, dan tidak terlalu sedih ketika dalam kedukaan".
Kesana kemari si penasehat mencari benda tersebut. Ketika mendapatkan sebuah guci, dia memberikannya pada sang raja, tetapi sang raja masih merasa terlalu gembira ketika gembira dan terlalu sedih ketika sedih. Begitu juga dengan benda-benda lainnya. Pedang, Jubah, Berlian, Emas, dan lain sebagainya.
Dengan sedih, si penasehat menghadap raja. Memohon ijin untuk berkelana ketempat yang jauh untuk mencari benda yang dimaksud. Berbulan-bulan dia dalam pengembaraannya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang tua bijak yang memberikan sebuah benda. Sebuah cincin biasa. Dia memberikan cincin usang itu kepada si penasehat sambil berpesan :"Beritahu rajamu, ketika dia dalam keadaan senang atau sedih, tatap cincin ini"
Dengan langkah ringan dan hati yang gembira, si penasehat pulang menghadap sang raja. Setelah memberikan cincin usang tersebut, dia berlutut dan hanya dapat menatap lantai di hadapannya. Dia takut jika ternyata raja tidak puas dengan pekerjaannya itu. Ketika dia mencuri pandang ke arah raja, dia melihat seulas senyuman terpasang di bibir sang raja. Sang raja lalu berkata, "Anakku, benda seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang"...
~~~***~~~
Aku penasaran, mengapa sebuah cincin usang bisa membuat sang raja merasa puas. Aku pun membaca artikel tersebut sampai habis hingga akhirnya aku tahu jawabnya. Di dalam cincin tersebut ada sebuah kalimat yang harus kita baca ketika kita merasa senang atau sedih. Mau tau kalimat itu bertuliskan apaan? Dan seperti sang raja tadi, aku pun tersenyum ketika mengetahui bahwa tulisan itu berbunyi :"SEMUA AKAN BERAKHIR"
Aku pun juga yakin, begitu teman kos-kosanku itu kuceritakan artikel tadi, dia akan tersenyum lebar penuh keoptimisan.
Minggu, 03 Mei 2009
welcome home quemochi!
Assalamualaikum...kuketok pintu rumahku yang 'lama' tak kusambangi. Dan tenyata sudah ada sekitar 156 'misscall' yang tak sempat kubalas. Entahlah, pikiranku sekarang ini telah dipenuhi dengan nafsu duniawi. Dengan target-target, dengan angka-angka, dengan hasil-hasil. Dan kulupa untuk memberi, untuk bermanfaat, untuk bertegur sapa. Maaf, hanya itu yang dapat kuucap. Maaf untuk 'rumahku' yang lama kubiarkan tak terurus. Maaf untuk segala macam ide dalam otak yang lama terendap. Maaf untuk setiap orang yang lama tak kukunjungi.
Yup, welcome home quemochi. Rumahmu ya disini, dimultiply...
Yup, welcome home quemochi. Rumahmu ya disini, dimultiply...
Langganan:
Postingan (Atom)
