si mpunya lembaran putih

Rabu, 24 Februari 2010

use your brain before its unused anymore...

Maaf-maaf, judulnya pake bahasa inggris, bukannya gak pede pake bahasa indonesia...(buktinya nih pake bahasa indonesia juga...)
Ada anekdot yang mengatakan, otak orang indonesia tuh harganya mahal. Bahkan lebih mahal daripada otak orang jepun atau amrik sekalipun. Dan otak yang harganya paling murah adalah otaknya einstein. Teman-teman pasti sudah tau jawabannya. Yup, itu karena otak orang indonesia masih orisinil, masih baru, jarang di pake...sedangkan otak orang jepun, amrik dan einstein udah bekas semua...(jangan tersinggung ya, karena ini anekdot lama...)
Ngomong-ngomong tentang otak. Otak yang paling enak adalah yang dijual di resto-resto padang...(pas aku nulis gini, pasti ada temenku yg protes, "kesukuan!" begitu mungkin kata dia...hehehehe...)

Duh, aku mo nulis apa sih sebenarnya...(maaf, kebanyakan prolog, lagi mo mencoba konek antara jari dan pikiran yang sedang kebanyakan ide...)

Okeh, mungkin teman-teman blom tahu, klo daya otak orang indonesia itu lebih hebat daripada otak orang-orang luar. Dalam satu sesi doa pagi di kantorku, manajer marketing di kantorku berbicara : "Jangan salah, justru orang-orang Indonesia itu lebih dipercaya oleh orang-orang luar negeri. Otak orang indonesia lebih hebat dari otak bangsa apapun. Kita pekerja cerdas dan pekerja keras. Daya tahan kita dalam menghadapi masalah lebih mantap. Satu kekurangan kita adalah...(pen:duh masih ada kekurangannya...), segala macam ide yang ada di otak orang indonesia, tidak di aplikasikan kedalam kerja tim. Kita terlalu malu dalam mengungkapkan pendapat"

Yup, banyak dari kita yang hanya diam ketika dalam sesi diskusi. Sibuk berpikir mungkin. Seringkali aku mendapati teman-teman satu organisasi dulu, baru mengeluarkan pendapatnya ketika sesi rapat berakhir. "Bar, mendingan kita begini-begitu-segala macem...bla...bla...bla...
" (Aku sering ngomong dalam hati, "kenapa tadi gak ngomong?")

Kenapa bisa begitu? Manajer marketingku bilang, "itu karena pola pendidikan di negeri kita salah. banyak dari kita yang malu mengeluarkan pendapatnya karena takut tertawakan karena idenya biasa saja. Padahal bisa saja, dari ide yang biasa itu, tercetus ide yang lebih hebat"

Coba kita ingat ketika dulu kita masih di bangku sekolah menengah. Ketika guru kita berkata,"anak-anak,ada yang mau bertanya?" dijamin, semuanya pada duduk yang manis tangan dilipat yang rapi sambil memasang tampang sok ngerti (begitu pun aku dulu...T_T...)

atau ketika dalam sesi rapat organisasi, si pemimpin rapat bertanya,"baik ada yang mau mengeluarkan pendapatnya?" dan semua peserta rapat hanya berbicara berbisik satu dengan yang lain sambil mendorong,"elu donk ngomong..."

ada juga yang berpikiran, "ah...nanti klo gw yang ngomong ngeluarin pendapat, ntar gw lagi yang ditunjuk jadi ketua pelaksana...ogah ah..."

Ada pertanyaan, kenapa kita bisa mengantuk. Ada yang menjawab secara ilmiah,"ngantuk disebabkan karena otak kita kekurangan asupan oksigen. Sehingga ketika asupan oksigen itu kurang, otak kita akan memerintahkan mata untuk terpejam"

Kalau aku jawabnya, "kita mengantuk karena otak kita tidak dipake!"
Mengantuk disini maksudnya bukanlah pada saat malam hari kita mau tidur. Tapi pada saat di siang hari bolong ketika kita hanya bengong-bengong gak jelas.

Seperti halnya sebuah komputer, ketika kita tidak menggunakannya untuk beberapa saat, maka sistemnya akan memerintahkan layar monitor untuk padam. Jika kita diamkan lagi beberapa saat, maka sistemnya akan masuk menjadi posisi "standby"...untuk kemudian berangsur 'off' sendiri.

Sistem otak kita adalah satu sistem yang sangat luar biasa. Sistem otak kita terdiri dari sel-sel yang terus tumbuh dan berkembang. Dan ketika ada sel-sel yang tidak pernah digunakan, maka sel itu akan mati dengan sendirinya. Begitu sebaliknya, semakin sel-sel otak itu digunakan, dia justru semakin fresh dan kuat. Mo bukti? dateng aja kerumah nenekku di bilangan BSD. Nenekku yang berumur 70 tahun lebih itu masih aktif layaknya wanita berumur 40 tahunan. Dia mengelola satu koperasi berbasis syariah disana. Dan sampai saat ini beliau masih terlihat segar untuk nenek2 berumur 70an.
Atau...ibuku...beliau yang sekarang berumur genap setengah abad, masih aktif seperti layaknya wanita berumur 25 tahunan. Dia masih aktif merias pengantin, bikin kue dan masakan lezat, bikin seserahan untuk lamaran, dll. Bahkan masih terlihat cantik sampai saat ini. Dia jarang sakit walaupun sesibuk apapun. Buktinya? beliau masih bisa aktif ngomelin aku klo aku rada bengal...hehehehe...

Atau yang mungkin teman2 lebih kenal lagi. Nabi Muhammad SAW, pada saat haji wada, di padang arafah, dia pernah berpidato dari selepas subuh sampai menjelang zuhur, kemudian masih lanjut sampai menjelang ashar, dengan pidato yang tidak membuat bosan umatnya. Pidato yang sangat berapi-api dan terus di kenang. Padahal saat itu dia sudah berusia 60an.

Semua itu tidak lain karena mereka mengaktifkan kerja otaknya dalam bentuk nyata. Tidak saja dalam bentuk pikiran individu. Yang berkutat di seputaran kepala saja tanpa berhasil dikeluarkan dalam aksi nyata.

Yah, tulisan ini mungkin hanya sedikit pengingat kalau otak kita adalah benda terindah yang dianugerahkan Allah SWT pada kita. Otak kita inilah yang membedakan kita dari makhluk-makhlukNya yang lain. Semoga kita masih bisa terus mengaktifkan dan mengoptimalkan kerja otak kita...Aamiin...

(sebuah tulisan yang terlintas ketika sedang berkendara motor dengan seorang sahabat...)

kisah awalku berkarir di Bank Syariah "Ternama" di Indonesia...^_^

(note dari penulis: "sebetulnya ini tulisan udah di buat dari tanggal 14 januari kemaren, tapi di publish bukan di MP, tapi di situs pertemanan yang lagi rame itu lho...hehe)

~**~
14 januari 2010
Hari ini tepat setahun sudah aku merasakan ujian hidup sesungguhnya.
Ketika aku lepas dari tanggungan orangtuaku, dan mencoba menghidupi diriku dengan hasil kerjaku. Ketika aku memutuskan untuk hidup sebatangkara jauh dari keluarga. Berat, tapi inilah pilihanku. Ketika jalan kecil itu terbentang, aku dihadapkan pada pilihan, apakah aku harus terus melaluinya atau menunggu jalan lain yang belum tentu ada.

~**~

Setelah ada serangkaian seleksi yang berminggu-minggu, akhirnya...

6 januari 2009, sore hari.
Aku ditelepon oleh HRD tempatku bekerja sekarang.
Assalamualaikum, bisa berbicara dengan pak maulana araita akbar?"
"Iya, saya sendiri. Ini darimana?"
"Saya Ilham, dari Bank Syariah "Ternama" (edited by author, gak dapet sponsor...^_^...) cabang tangerang. Besok bisa hadir untuk wawancara dengan kami?"
"Besok? alamatnya?" (dan cerita berlanjut dengan aksi tulis menulis alamat kantor cabang Bank Syariah "Ternama" tersebut. Sekalian kutanya petunjuk arahnya)
Selesai menerima telepon itu, aku langsung lari ke kamar orangtua untuk mengabarkan kabar tersebut. Terpancar raut bahagia dari wajah ibuku. Ayahku yang seorang psikolog itu langsung membesarkan harapanku. "Bar, insyaAllah, klo uda wawancara akhir dengan user, kamu diterima. Sekarang perbanyak lagi doanya"

~**~

7 januari 2009, pagi-pagi sekali aku sudah bersiap. Berbekal alamat yang diberi HRD kemarin, aku pun menumpang bis jurusan senen-cimone bernomor 67. Di dalam mobil ber-AC itu aku terus berupaya berdoa sambil terus berharap2 cemas. "Ya Allah, semoga ini pencarian terakhirku. Semoga hamba diterima Ya Allah"
Tapi karena baru sekali itu menginjakkan kaki ke tangerang, aku tidak begitu paham dengan patokan2 yang dikasih. Tak disangka, bis yang kutumpangi tidak masuk ke terminal cimone, tapi langsung mo berbalik ke jakarta. Aku bertanya ke kondekturnya, "Pak, saya turun di terminal cimone, masih jauh ga ya pak"
"Wah, dek. Kita dah mau balik lagi ke jakarta. Kita emang gak masuk ke terminalnya. Adek turun aja, terus lanjut dengan angkot warna biru itu"
Aku pun turun dari bis itu sambil berucap terimakasih. Entahlah, seperti ada yang menggerakkanku untuk bertanya ke kondektur seperti tadi. Entah kalau aku tidak bertanya, mungkin aku masih berada di bis itu dan malah kembali ke jakarta...fiuh...
Aku pun naik ke angkot biru (yg kulupa jurusan dan nomornya). Aku hanya bilang ke sopirnya, "Pak, lewat jalan merdeka?"
"Ya, naik aja dek, mau turun dimana?"
"Di kantor cabang Bank Syariah "Ternama" pak"
"ooo...ya.ya....nanti saya kasih tau klo dah deket"
Dan aku pun melanjutkan perjalananku di tempat yang masih sangat asing itu sampai akhirnya aku pun sampai di kantor cabang Bank Syariah "Ternama" tersebut.
Aku bertemu dengan pak Ilham, yang ternyata adalah seniorku waktu SMA dulu. Walau kita gak pernah bertemu sebelumnya, tapi karena satu angkatan, saya merasa tidak canggung lagi.
Saat itu tepat jam 9 pagi. Aku datang benar2 tepat waktu, karena aku janji datang jam 9. Alhamdulillah...
Yang mewawancaraiku saat itu adalah pak Adi Yuniar, manajer operasional berdarah padang, keturunan india. Sesuai saran ayahku sehari sebelumnya, aku menjabat tangan beliau dengan mantap.
Selesai wawancara yang tidak singkat itu, aku pun langsung kembali ke jakarta. Tidak lupa sebelumnya aku mengucapkan terimakasih telah memberikan kesempatan untuk diwawancara (ini pelajaran nomer ke sekian di buku tentang interview pekerjaan yang selalu kubaca dulu....hehe)
Di terminal cimone (akhirnya aku ketemu juga ama terminal cimone ini...XD) aku beristirahat sebentar di sebuah warung dengan memesan sebotol teh...(teh botol, yg ini bolehlah aku tulis...hihi...). Sejenak aku berpikir, apa disini, dikota tangerang ini, aku mendapatkan rezekiku?
Aku hanya berharap Allah memberikan yang terbaik untukku...

~**~

Setelah hari wawancara itu, aku tak putus2nya berdoa pada Allah. "Ya Allah, berilah hamba rezeki yang halal". Sampai akhirnya...
13 januari 2009, telepon rumahku berdering. Tapi bukan aku yang mengangkatnya. Yang mengangkatnya adalah pembantu rumahtanggaku. Saat itu aku tidak bisa mengangkatnya karena sedang ada keperluan di toilet rumah...(you know lah...^_^...)
Selesai dari keperluan di toilet, aku langsung bertanya ke pembantuku. Entah kenapa aku sensitif sekali ketika mendengar dering telepon, sampai2 HP-ku pun ku bawa kemana2 demi mendapat kabar dari perusahaan2 tempatku melempar lamaran.
"Mbak, tadi telepon dari siapa?"
"Gak tau mas, tadi sih nyari mas akbar, dari Bank apa gitu tapi saya lupa darimana..."
Saat itu aku berpikir, ah....paling nanti juga ditelepon lagi. Tapi berbeda dengan pikiran ibuku. "Bar, kamu aja yang telepon, ada nomernya kan?"
"Ah, nanti juga ditelepon ma..."
"Ya, mendingan kamu duluan aja yang nelpon. Buru gih, siapa tau rezeki kamu di situ...gih..." perintah ibuku lagi yang tidak bisa kutolak.
Aku pun menelepon nomer yang sudah kupegang. Yang mengangkat mungkin satpam kantor tersebut. Karena ketika aku bilang ingin berbicara dengan HRDnya, dia langsung mengoper ke orang yang dituju...
"ya..dengan ilham bisa dibantu?" begitu suara yang kudengar...
"pak ilham, saya akbar yang minggu lalu wawancara..." belum selesai aku berbicara, samar2 aku mendengar pak ilham memanggil pak adi..."pak, dari yang wawancara minggu lalu, diterima kan?" dan gak berapa lama, pak ilham kembali berbicara kepadaku..."nah, mas akbar, besok langsung kerja ya..."
Setengah gak percaya dengan bodohnya saya malah balik bertanya, "maksudnya?"
"Ya, mas kami terima untuk bekerja di tempat kami..."
Tak terasa seperti ada haru didalam hati ini...
Selesai pembicaraan lewat telepon itu, aku langsung ke kamar orangtua. "Ma, aku besok kerja..."
"Alhamdulillah..." ibuku langsung mencium keningku, dan aku pun mencium tangan ibuku itu..."makasih ya ma, doanya selama ini..."
Dan selanjutnya adalah....ibuku langsung nyebar2in info atas kabar gembira itu ke sodara2.....ah bahagia sekali melihat dia bahagia...
Kesibukan selanjutnya adalah persiapan bekalku besok. Ibuku langsung membelikanku beberapa potong baju.

~**~
14 januari2 2009, hujan deras mengguyur jakarta. Selepas subuh aku sudah bersiap untuk memulai perjalananku menjadi lebih dewasa. Dilepas dengan doa dari ibu yang membesarkan ku dengan cintanya. Diiringi dengan nasehat dari ayahku yang tumben2nya bisa bangun pagi2 buta...hehe...
Aku berjalan, dengan payung biru, di tengah awan kelam abu2...