| Start: | Jan 2, '09 1:00p |
| End: | Jan 2, '09 4:00p |
| Location: | Bundaran HI |
Selasa, 30 Desember 2008
aksi Munashoroh Palestina!
masihkah kita...
Ini adalah hari terakhir di tahun 2008. Dan seperti di malam-malam pergantian tahun sebelumnya, akan ada banyak orang yang merayakannya dengan segenap bentuk acara. Pesta barbeque, kembang api, nonton, tiup terompet, dan puncaknya adalah menghitung detik-detik menjelang jam 12 malam teng!
Akan ada banyak perusahaan yang menggelontorkan pundi-pundinya untuk mendatangkan artis-artis dengan biaya yang buanyaaakkkk bgt! Penuh canda-tawa, kegembiraan, kemeriahan, dan hura-hura yang......sesaat. Hanya sesaat.
Aku bingung, kenapa begitu banyak orang yang dengan senangnya menyambut pergantian tahun masehi? Bukankah itu pertanda bumi sudah sedemikian tua, dan mungkin ajalnya akan datang sebentar lagi? Bagaimana jika ketika hitungan mundur mereka sudah mencapai angka 1 dan teriakan Happy New Year digemakan, terompet sangkakala dibunyikan?
Akan ada banyak perusahaan yang menggelontorkan pundi-pundinya untuk mendatangkan artis-artis dengan biaya yang buanyaaakkkk bgt! Penuh canda-tawa, kegembiraan, kemeriahan, dan hura-hura yang......sesaat. Hanya sesaat.
Aku bingung, kenapa begitu banyak orang yang dengan senangnya menyambut pergantian tahun masehi? Bukankah itu pertanda bumi sudah sedemikian tua, dan mungkin ajalnya akan datang sebentar lagi? Bagaimana jika ketika hitungan mundur mereka sudah mencapai angka 1 dan teriakan Happy New Year digemakan, terompet sangkakala dibunyikan?
Senin, 22 Desember 2008
tracking di curug cilember...
Hari jumat-minggu kemarin aku jalan-jalan bareng temen-temen pers kampus. Sekedar touring ke puncak, menghilangkan penat. Nyewa villa murah yang cuma dipake buat istirahat. Sisanya seharian kita jalan-jalan didaerah puncak.
Hari sabtunya kita tracking ke curug cilember. Klo cuma sampe curug 7 ato 5 kita dah biasa. Tapi hari itu kita coba naik ke curug 4.
Tracknya cukup rumit. Karena cuma berupa jalan setapak yang licin dan berlumpur. Penuh dengan semak berduri dan pacet yang setia banget menghisap darah dari kaki ato tangan kita. Ihhhh...
Kita lalui terus jalan yang rumit tadi. Bahkan sampe berpikiran, "siapa sih yang buka jalan? nanggung banget!" hehehehe...
Akhirnya kita sampe juga di curug 4. Sepi bgt, karena emang jarang pengunjung yang dateng ke sana. Biasanya mereka cuma sampe curug 5. Kita puas-puasin deh foto-foto di tempat itu. Sambil main-main air yang dinginnya ngalahin air kulkas...berrr.....
~~~***~~~
Allah memang luar biasa. DIA melukis sebuah pemandangan yang sangat indah di tempat itu. Air yang tak henti-hentinya mengucur deras dari balik bebatuan yang tersusun secara fantastis.
Dari pengalaman berkunjung ke curug 4 itu aku mendapat satu hikmah. Ternyata keindahan yang ingin kita dapatkan harus kita lalui dari perjalanan yang melelahkan. Bebatuan dan duri tajam akan kita lalui. Kesulitan demi kesulitan akan kita temui. Dan setelahnya, lihatlah...Allah telah memberikan akhir perjalanan yang sangat memuaskan. Begitu juga dalam menjalani hidup kita ini. Memang akan selalu bertemu dengan yang namanya ujian dan cobaan. Onak dan Duri. Kerikil-kerikil tajam yang melukai kaki. Tetapi setelah itu, kemudahan akan kita raih...
Hari sabtunya kita tracking ke curug cilember. Klo cuma sampe curug 7 ato 5 kita dah biasa. Tapi hari itu kita coba naik ke curug 4.
Tracknya cukup rumit. Karena cuma berupa jalan setapak yang licin dan berlumpur. Penuh dengan semak berduri dan pacet yang setia banget menghisap darah dari kaki ato tangan kita. Ihhhh...
Kita lalui terus jalan yang rumit tadi. Bahkan sampe berpikiran, "siapa sih yang buka jalan? nanggung banget!" hehehehe...
Akhirnya kita sampe juga di curug 4. Sepi bgt, karena emang jarang pengunjung yang dateng ke sana. Biasanya mereka cuma sampe curug 5. Kita puas-puasin deh foto-foto di tempat itu. Sambil main-main air yang dinginnya ngalahin air kulkas...berrr.....
~~~***~~~
Allah memang luar biasa. DIA melukis sebuah pemandangan yang sangat indah di tempat itu. Air yang tak henti-hentinya mengucur deras dari balik bebatuan yang tersusun secara fantastis.
Dari pengalaman berkunjung ke curug 4 itu aku mendapat satu hikmah. Ternyata keindahan yang ingin kita dapatkan harus kita lalui dari perjalanan yang melelahkan. Bebatuan dan duri tajam akan kita lalui. Kesulitan demi kesulitan akan kita temui. Dan setelahnya, lihatlah...Allah telah memberikan akhir perjalanan yang sangat memuaskan. Begitu juga dalam menjalani hidup kita ini. Memang akan selalu bertemu dengan yang namanya ujian dan cobaan. Onak dan Duri. Kerikil-kerikil tajam yang melukai kaki. Tetapi setelah itu, kemudahan akan kita raih...
Label:
air,
jalanjalan,
sepenggalrenungan,
terusmelangkah,
touring
di Hari Ibu itu aku...
Tanggal 22 desember kemarin semua orang tahu klo itu adalah Hari Ibu Nasional. Aku teringat dengan kata-kata Nabi Muhammad SAW ketika mengharuskan kita mencintai Ibu kita. Bahkan beliau menyebutnya tiga kali sebelum kemudian kita menghormati ayah kita.
Oke, sekarang aku akan bercerita tentang Ibuku.
Ibuku pernah menjadi seorang single parent. Orangtuaku bercerai mulai dari aku SD sampe aku mengecap bangku kuliahan (mau tahu rasa bangku kuliahan? sepet! ^__^).
Klo dipikir-pikir aku begitu salut pada Ibuku. Dia berjuang sendiri membesarkan ketiga anaknya. Mulai dari merias pengantin, membuat kue-kue, menjahit pakaian, dekorasi kamar pengantin, dia kerjakan. Ayahku hanya sesekali mengirimkan uang sekolah. Kondisi ekonomi yang sulit membuatnya tidak bisa mengirim banyak.
Masa-masa itu mungkin masa-masa tersuramku sebagai remaja. Tetapi entahlah, sekarang justru aku bersyukur pernah mengalaminya. Dan alhamdulillah aku gak seperti remaja-remaja yang mengalami brokenhome lainnya. Aku jauh dari sergapan narkoba dan pergaulan liar lainnya yang terkadang dijadikan pelarian para remaja yang brokenhome. Itu semua karena aku memiliki Ibu yang sangat luar biasa.
Sekarang beliau sudah menikah lagi dengan seorang pria keturunan madura yang masih abang adek ama Pepeng Jari-jari. Aku baru tahu kalo calon suami Ibuku itu adalah adeknya si Pepeng ketika masa lamaran. Aku heran, nih artis ngapain dateng, eh ga taunya dia abangnya calon suami Ibuku itu.Mau tau lebih jauh? Ternyata eh ternyata Ibunya calon suami Ibuku (bacanya ribet gak sih?) adalah mantan guru SMPnya Ibuku. What a small world!
Dan Ayah kandungku sekarang juga sudah menikah dengan seorang wanita yogya dan sudah memiliki 2 orang anak, adik-adikku. Allah memang luar biasa dalam membuat skenario kehidupan. DIA dengan sangat hebatnya memutar balik keadaan kami, dari kesusahan menjadi kemudahan.
~~~**~~~
Lebih lanjut mengenai Ibuku...
Beliau pernah menjadi inspirasiku ketika aku ditunjuk untuk mengisi muhasabah dalam suatu acara. Aku mengingat kembali wajah Ibuku. Mengenang kembali perjuangannya membesarkanku. Peluh dan airmatanya. Obrolan kami ketika aku memijat pundaknya yang lelah setelah seharian merias. Dan tangisku tumpah seketika ketika aku teringat belum berbuat banyak untuknya. Aku teringat ketika aku berbohong kalau kuliah dan skripsiku baik-baik saja hanya untuk tidak menambah beban pikirannya. Aku merasa bersalah saat itu. Aku rasanya belum sekalipun membuatnya tersenyum...
Aku pernah menjadi editor freelance untuk sebuah penerbitan buku. Dan ketika aku menyerahkan honorku, beliau malah berkata, "udah simpen aja, mama seneng kok kamu udah bisa nyari duit sendiri"
Sekarang, gak pernah terputus dalam doa setelah sholat untuk kebahagiaannya. Aku bermimpi untuk memberangkatkan beliau berhaji dengan rezeki yang kudapatkan. Semoga mimpi itu terlaksana sebelum beliau kembali ke pangkuan-Nya...
~~~**~~~
di Hari Ibu itu aku mendengarkan lagu Bunda yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw. Mataku terpejam, dan mataku kembali berkaca-kaca mengingat betapa besar jasa Ibuku yang tak mungkin kubalas itu...
Oke, sekarang aku akan bercerita tentang Ibuku.
Ibuku pernah menjadi seorang single parent. Orangtuaku bercerai mulai dari aku SD sampe aku mengecap bangku kuliahan (mau tahu rasa bangku kuliahan? sepet! ^__^).
Klo dipikir-pikir aku begitu salut pada Ibuku. Dia berjuang sendiri membesarkan ketiga anaknya. Mulai dari merias pengantin, membuat kue-kue, menjahit pakaian, dekorasi kamar pengantin, dia kerjakan. Ayahku hanya sesekali mengirimkan uang sekolah. Kondisi ekonomi yang sulit membuatnya tidak bisa mengirim banyak.
Masa-masa itu mungkin masa-masa tersuramku sebagai remaja. Tetapi entahlah, sekarang justru aku bersyukur pernah mengalaminya. Dan alhamdulillah aku gak seperti remaja-remaja yang mengalami brokenhome lainnya. Aku jauh dari sergapan narkoba dan pergaulan liar lainnya yang terkadang dijadikan pelarian para remaja yang brokenhome. Itu semua karena aku memiliki Ibu yang sangat luar biasa.
Sekarang beliau sudah menikah lagi dengan seorang pria keturunan madura yang masih abang adek ama Pepeng Jari-jari. Aku baru tahu kalo calon suami Ibuku itu adalah adeknya si Pepeng ketika masa lamaran. Aku heran, nih artis ngapain dateng, eh ga taunya dia abangnya calon suami Ibuku itu.Mau tau lebih jauh? Ternyata eh ternyata Ibunya calon suami Ibuku (bacanya ribet gak sih?) adalah mantan guru SMPnya Ibuku. What a small world!
Dan Ayah kandungku sekarang juga sudah menikah dengan seorang wanita yogya dan sudah memiliki 2 orang anak, adik-adikku. Allah memang luar biasa dalam membuat skenario kehidupan. DIA dengan sangat hebatnya memutar balik keadaan kami, dari kesusahan menjadi kemudahan.
~~~**~~~
Lebih lanjut mengenai Ibuku...
Beliau pernah menjadi inspirasiku ketika aku ditunjuk untuk mengisi muhasabah dalam suatu acara. Aku mengingat kembali wajah Ibuku. Mengenang kembali perjuangannya membesarkanku. Peluh dan airmatanya. Obrolan kami ketika aku memijat pundaknya yang lelah setelah seharian merias. Dan tangisku tumpah seketika ketika aku teringat belum berbuat banyak untuknya. Aku teringat ketika aku berbohong kalau kuliah dan skripsiku baik-baik saja hanya untuk tidak menambah beban pikirannya. Aku merasa bersalah saat itu. Aku rasanya belum sekalipun membuatnya tersenyum...
Aku pernah menjadi editor freelance untuk sebuah penerbitan buku. Dan ketika aku menyerahkan honorku, beliau malah berkata, "udah simpen aja, mama seneng kok kamu udah bisa nyari duit sendiri"
Sekarang, gak pernah terputus dalam doa setelah sholat untuk kebahagiaannya. Aku bermimpi untuk memberangkatkan beliau berhaji dengan rezeki yang kudapatkan. Semoga mimpi itu terlaksana sebelum beliau kembali ke pangkuan-Nya...
~~~**~~~
di Hari Ibu itu aku mendengarkan lagu Bunda yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw. Mataku terpejam, dan mataku kembali berkaca-kaca mengingat betapa besar jasa Ibuku yang tak mungkin kubalas itu...
Senin, 15 Desember 2008
Touring BIMA II 2008
| Start: | Dec 19, '08 6:00p |
| End: | Dec 21, '08 3:00p |
| Location: | puncak, jawa barat |
Kamis, 11 Desember 2008
yok kita adu tanding!
Seorang sahabat saya pernah ngasih tausyiah dalam sebuah pertemuan rutin mingguan. Sebuah pesan-pesan yang cukup menyentil bagi kita yang hadir pada saat itu. Mmmm...kurang lebih isinya begini, kalau salah-salah redaksi, itu kesalahan saya sendiri (palingan ntar sahabat saya itu juga bakal komen...)
ehem...saya ulang, kurang lebih prolognya begini :
"Teman-teman, coba renungkan. Pada suatu perlombaan lari, kita telah terdaftar jadi pesertanya. Kemudian ketika pistol tanda perlombaan dimulai, kita mulai berlari. Tapi diantara para peserta, ada juga yang hanya duduk-duduk di garis start. Ada juga yang malah hanya jadi penonton. Kemudian ada seseorang yang berlari kencang sampai garis finish. Tapi ternyata orang itu bukanlah peserta yang telah mendaftar sebelumnya. Dia main nyelonong aja ikut-ikutan berlari, dan menang. Setelah itu, kita cuma bisa pasrah. Terserah juri yang memutuskan, apakah orang itu -yang tidak mendaftar sebelumnya- menjadi pemenang dan mendapat hadiah utama dalam perlombaan lari atau tidak. Dalam nalar kita, tentunya juri tidak akan mengesahkan dia sebagai pemenang. Tapi sekalilagi, itu hak prerogatif juri untuk menentukan siapa juaranya."
Dalam hidup ini, alhamdulillah kita telah terdaftar untuk mengikuti sebuah pertandingan amal sholeh dengan syahadat yang kita lafaskan ulang disetiap sholat kita. Pertanyaannya, sudahkah kita memulai langkah kita digaris start? Jangan-jangan kita hanya jadi duduk-duduk santai atau bahkan hanya jadi penonton. Tapi diluar kita, banyak orang-orang baik yang beramal kebajikan, padahal dua kalimat syahadat itu blom keluar dari bibirnya. Bunda Theresa, Putri Diana, Sidharta Ghautama, dan orang-orang baik lain diluar, mereka berlomba-lomba mengamalkan kebaikan dengan cara mereka sendiri. Entahlah, apakah amal mereka akan diganjar dengan surga oleh Allah atau tidak. Itu hak Allah yang memutuskan.
Oleh karena itu, jangan sia-siakan nomer kepesertaan kita. Untuk kita Allah telah memberikan janji-Nya untuk memberikan ganjaran pada setiap amal kebaikan yang kita lakukan, bahkan yang sekecil biji atom. Asalkan....hanya untuk mengharap ridho-Nya...
ehem...saya ulang, kurang lebih prolognya begini :
"Teman-teman, coba renungkan. Pada suatu perlombaan lari, kita telah terdaftar jadi pesertanya. Kemudian ketika pistol tanda perlombaan dimulai, kita mulai berlari. Tapi diantara para peserta, ada juga yang hanya duduk-duduk di garis start. Ada juga yang malah hanya jadi penonton. Kemudian ada seseorang yang berlari kencang sampai garis finish. Tapi ternyata orang itu bukanlah peserta yang telah mendaftar sebelumnya. Dia main nyelonong aja ikut-ikutan berlari, dan menang. Setelah itu, kita cuma bisa pasrah. Terserah juri yang memutuskan, apakah orang itu -yang tidak mendaftar sebelumnya- menjadi pemenang dan mendapat hadiah utama dalam perlombaan lari atau tidak. Dalam nalar kita, tentunya juri tidak akan mengesahkan dia sebagai pemenang. Tapi sekalilagi, itu hak prerogatif juri untuk menentukan siapa juaranya."
Dalam hidup ini, alhamdulillah kita telah terdaftar untuk mengikuti sebuah pertandingan amal sholeh dengan syahadat yang kita lafaskan ulang disetiap sholat kita. Pertanyaannya, sudahkah kita memulai langkah kita digaris start? Jangan-jangan kita hanya jadi duduk-duduk santai atau bahkan hanya jadi penonton. Tapi diluar kita, banyak orang-orang baik yang beramal kebajikan, padahal dua kalimat syahadat itu blom keluar dari bibirnya. Bunda Theresa, Putri Diana, Sidharta Ghautama, dan orang-orang baik lain diluar, mereka berlomba-lomba mengamalkan kebaikan dengan cara mereka sendiri. Entahlah, apakah amal mereka akan diganjar dengan surga oleh Allah atau tidak. Itu hak Allah yang memutuskan.
Oleh karena itu, jangan sia-siakan nomer kepesertaan kita. Untuk kita Allah telah memberikan janji-Nya untuk memberikan ganjaran pada setiap amal kebaikan yang kita lakukan, bahkan yang sekecil biji atom. Asalkan....hanya untuk mengharap ridho-Nya...
Rabu, 10 Desember 2008
di sekretariat mungil itu...
mmm...pertama-tama bukannya mau ikut-ikutan temen nih. Tapi idenya emang ngambil dari MPnya dia...hehehe...gapapa yeee? klo temenku itu dia berkecimpung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Radio Tiara 107,7 FM...Aku katakan saja kalo itu adalah media suara, karena anak radio pasti kerjaannye cuap-cuap syalalala...
nah, klo aku beda, aku kena kebagian di media cetaknya...tepatnya namanya Unit Kegiatan Pers Mahasiswa BIMA (Badan Informasi Mahasiswa) STEI...okeh...lanjut!
Tapi awalnya saya gak ada kepikiran barang sedikit pun untuk jadi anggota UKPM BIMA lho. Terpaksa, disuruh ama senior untuk nerusin program kerjanya. Soalnya ntu UKM hampir-hampir vakum. Ga ada anggota yang terbaru. Sisanya yang udah angkatan tua, yang dikit lagi mau disibukin ama urusan skripsinya. Jadi saya ama dua orang temen (sandi dan yudo) disuruh jadi penerusnya. Sandi diamanahin jadi pemimpin umumnya, Yudo jadi sekretaris umum, dan saya sendiri jadi pemimpin redaksinya. Lah, saya bingung kok saya yang ditugasin. Saya juga bingung, apa yang bisa diperbuat dengan anggota aktif yang cuma 3 orang. Tapi setelah di tausyiahin macem-macem dan dikasih motivasi ama murobbi, akhirnya amanah itu saya jalankan.
Pertama kali masuk ke sekretariatannya, asiiinnnnggg banget. Ketemu sama orang-orang yang sama sekali baru saya kenal., lagipula mereka juga lebih senior. Ruangannya mungil seperti lorong. Bayangkan, sekretariatannya cuma berupa lorong 2x15 meter dengan satu ruang redaksi berukuran 3x7 meter di ujung lorong tersebut. Mirip-mirip ama bentuk palu gitu deh. Bisa dibayangin, kalo lagi rapat redaksi kita musti duduk berhadap-hadapan sambil melipat kaki.
Sempat beberapa bulan hati saya blom sreg sama UKM tersebut. Selain keadaannya hedonis bgt (maksudnya cewe-cowo gabung satu ruang gitu...). Waktu itu kan saya juga jadi anggota remaja masjid, jadi rada canggung klo berinteraksi kayak gitu. Akhirnya untuk pertama kalinya mungkin pas rapat dibikin jarak antar cewe-cowo. Saya masih inget bgt, waktu pertama kali masuk ada kak Jaya dan kak Indra yang bae bgt ngasih tau tugas-tugas kita sebagai penerus mereka. Ada juga bang Prada dan kak Oki yang bae bgt ngajarin saya desain grafis. Trus ada kak Dadan, kak Dimas, kak Yani, kak Marta, dan kak Dine yang rela bgt ngeluangin waktunya untuk nemenin kita ngeliput.
Awalnya emang terpaksa, tapi lama-lama jadi cinta ama sekretariatan UKPM BIMA yang imut-imut itu. Tapi mungkin disinilah bakat terpendam saya muncul. Mulai dari bidang desain grafis, fotografi, dan tulis menulis saya pelajari lebih dalam. Sampai akhirnya ketiga hal inilah yang membentuk diri saya sekarang. Saya pernah sampe jam 10 malem masih duduk di depan komputer sekretariat cuma untuk belajar pagemaker dan photoshop sampe akhirnya satpam ngusir secara halus dengan mematikan lampu kampus. Sampe-sampe bang Prada dan istrinya yang kadang nengok ke kampus malem-malem selalu bilang, "pasti deh, jam 9 malem gini ada si Akbar!".
Saya yang tadinya males bgt ngobrol ama dosen, karena tugas liputan, terpaksa harus lebih sering ngobrol ama dosen -yang disebelin sekalipun- cuma untuk ngedapetin info terbaru seputar kampus. Efeknya sih ada, saya pernah dateng terlambat untuk masuk kelas -terlambat sekitar 30 menit- dan dosen yang ngajar cuma senyum ke saya terus bilang ke temen-temen kelas, "akhirnya aktivis kita datang juga..."
Banyak dukanya juga lho. Komputer kita sering bgt ngadat. Musti bolak-balik ngebenerin ke harco mangga dua. Terus atapnya sering bgt jadi pancuran air kalo turun hujan. Dimarahin senat kalo buletinnya terlambat terbit, sampe anggota yang ngabur-ngaburan. Hiks...T_T
Akhirnya dibenahin deh atu-atu. Komputer kita beli yang baru dengan spesifikasi yang mantap buat desain grafis. Scanner ama printernya kita rawat sebisanya. Terus atapnya kita buat tadahan dari spanduk-spanduk yang kita ambil dari UKM-UKM lain.
Yang ngebanggain, UKPM BIMA jadi pelopor dalam membuat video profile UKM. Jadi cerita gini, kita pernah berencana untuk membuat video dokumentasi kegiatan-kegiatan kampus selama setahun. Isinya macem-macem, mulai dari kegiatan-kegiatan UKM lain, profile UKM lain, terus kilasan profile mantan mahasiswa STEI yang udah sukses, dan lain-lain. Tapi ditengah jalan, rencana kita terputus karena kendala dana.
Tapi ide kita itu dipake ama senat mahasiswa. Pas acara ospek mahasiswa baru, seluruh UKM di suruh untuk membuat video profile UKM masing-masing. Dan video profile UKPM BIMA waktu itu yang paling keren lho! (bukannya nyombong, tapi ini testimoni langsung dari para mahasiswa baru yang kita tanyain)
Kurang lebih 3 tahun, saya dan dua orang teman saya tadi membangun UKPM BIMA dari awal. Mulai dari anggota cuma 10 orang di tahun pertama, sekarang udah berkembang jadi 30 orangan.
Waktu mau lulus, berat bgt untuk ninggalin UKPM BIMA. Selain pengurus yang sekarang masih blom gape bgt ngedesain, mereka masih ada juga yang malu-malu ngeliput. Soalnya sampe terakhir saya nyusun skripsi, beberapa kegiatan masih saya juga yang diandelin. Mulai dari desain buletin, desain acara, nyari pembicara, dan lain-lain. Tapi ngeliat kekompakkan mereka jadi sedikit lega juga. Mereka udah cinta bgt ama sekretariatannya. Mereka bersemangat untuk meneruskan perjuangan saya dan 2 orang teman saya tadi. Dan itu yang utama. Saya gak bakal lupain saat-saat kita saling menyatukan tangan kita dan berteriak, "semangat! untuk BIMA!"
Saat itu mungkin yang lain gak tau klo dari mata saya menetes airmata haru plus bangga, dan dalam hati saya berucap, "mungkin ini saatnya saya lepas tanggung jawab"
Klo dipikir-pikir, bukan karena saya sudah nggak jadi mahasiswa lagi terus tugas saya selesai. Sekarang saya tergabung dalam dewan penasehat UKPM BIMA. Kerjanya sih gak lebih dari ngajarin anak-anak itu untuk jadi jurnalis ama ngajarin desain grafis.
di UKPM BIMA, saya yang awalnya nothing berkembang jadi something. Entahlah, mungkin ini takdir Allah yang luar biasa, yang patut saya syukuri.
nah, klo aku beda, aku kena kebagian di media cetaknya...tepatnya namanya Unit Kegiatan Pers Mahasiswa BIMA (Badan Informasi Mahasiswa) STEI...okeh...lanjut!
Tapi awalnya saya gak ada kepikiran barang sedikit pun untuk jadi anggota UKPM BIMA lho. Terpaksa, disuruh ama senior untuk nerusin program kerjanya. Soalnya ntu UKM hampir-hampir vakum. Ga ada anggota yang terbaru. Sisanya yang udah angkatan tua, yang dikit lagi mau disibukin ama urusan skripsinya. Jadi saya ama dua orang temen (sandi dan yudo) disuruh jadi penerusnya. Sandi diamanahin jadi pemimpin umumnya, Yudo jadi sekretaris umum, dan saya sendiri jadi pemimpin redaksinya. Lah, saya bingung kok saya yang ditugasin. Saya juga bingung, apa yang bisa diperbuat dengan anggota aktif yang cuma 3 orang. Tapi setelah di tausyiahin macem-macem dan dikasih motivasi ama murobbi, akhirnya amanah itu saya jalankan.
Pertama kali masuk ke sekretariatannya, asiiinnnnggg banget. Ketemu sama orang-orang yang sama sekali baru saya kenal., lagipula mereka juga lebih senior. Ruangannya mungil seperti lorong. Bayangkan, sekretariatannya cuma berupa lorong 2x15 meter dengan satu ruang redaksi berukuran 3x7 meter di ujung lorong tersebut. Mirip-mirip ama bentuk palu gitu deh. Bisa dibayangin, kalo lagi rapat redaksi kita musti duduk berhadap-hadapan sambil melipat kaki.
Sempat beberapa bulan hati saya blom sreg sama UKM tersebut. Selain keadaannya hedonis bgt (maksudnya cewe-cowo gabung satu ruang gitu...). Waktu itu kan saya juga jadi anggota remaja masjid, jadi rada canggung klo berinteraksi kayak gitu. Akhirnya untuk pertama kalinya mungkin pas rapat dibikin jarak antar cewe-cowo. Saya masih inget bgt, waktu pertama kali masuk ada kak Jaya dan kak Indra yang bae bgt ngasih tau tugas-tugas kita sebagai penerus mereka. Ada juga bang Prada dan kak Oki yang bae bgt ngajarin saya desain grafis. Trus ada kak Dadan, kak Dimas, kak Yani, kak Marta, dan kak Dine yang rela bgt ngeluangin waktunya untuk nemenin kita ngeliput.
Awalnya emang terpaksa, tapi lama-lama jadi cinta ama sekretariatan UKPM BIMA yang imut-imut itu. Tapi mungkin disinilah bakat terpendam saya muncul. Mulai dari bidang desain grafis, fotografi, dan tulis menulis saya pelajari lebih dalam. Sampai akhirnya ketiga hal inilah yang membentuk diri saya sekarang. Saya pernah sampe jam 10 malem masih duduk di depan komputer sekretariat cuma untuk belajar pagemaker dan photoshop sampe akhirnya satpam ngusir secara halus dengan mematikan lampu kampus. Sampe-sampe bang Prada dan istrinya yang kadang nengok ke kampus malem-malem selalu bilang, "pasti deh, jam 9 malem gini ada si Akbar!".
Saya yang tadinya males bgt ngobrol ama dosen, karena tugas liputan, terpaksa harus lebih sering ngobrol ama dosen -yang disebelin sekalipun- cuma untuk ngedapetin info terbaru seputar kampus. Efeknya sih ada, saya pernah dateng terlambat untuk masuk kelas -terlambat sekitar 30 menit- dan dosen yang ngajar cuma senyum ke saya terus bilang ke temen-temen kelas, "akhirnya aktivis kita datang juga..."
Banyak dukanya juga lho. Komputer kita sering bgt ngadat. Musti bolak-balik ngebenerin ke harco mangga dua. Terus atapnya sering bgt jadi pancuran air kalo turun hujan. Dimarahin senat kalo buletinnya terlambat terbit, sampe anggota yang ngabur-ngaburan. Hiks...T_T
Akhirnya dibenahin deh atu-atu. Komputer kita beli yang baru dengan spesifikasi yang mantap buat desain grafis. Scanner ama printernya kita rawat sebisanya. Terus atapnya kita buat tadahan dari spanduk-spanduk yang kita ambil dari UKM-UKM lain.
Yang ngebanggain, UKPM BIMA jadi pelopor dalam membuat video profile UKM. Jadi cerita gini, kita pernah berencana untuk membuat video dokumentasi kegiatan-kegiatan kampus selama setahun. Isinya macem-macem, mulai dari kegiatan-kegiatan UKM lain, profile UKM lain, terus kilasan profile mantan mahasiswa STEI yang udah sukses, dan lain-lain. Tapi ditengah jalan, rencana kita terputus karena kendala dana.
Tapi ide kita itu dipake ama senat mahasiswa. Pas acara ospek mahasiswa baru, seluruh UKM di suruh untuk membuat video profile UKM masing-masing. Dan video profile UKPM BIMA waktu itu yang paling keren lho! (bukannya nyombong, tapi ini testimoni langsung dari para mahasiswa baru yang kita tanyain)
Kurang lebih 3 tahun, saya dan dua orang teman saya tadi membangun UKPM BIMA dari awal. Mulai dari anggota cuma 10 orang di tahun pertama, sekarang udah berkembang jadi 30 orangan.
Waktu mau lulus, berat bgt untuk ninggalin UKPM BIMA. Selain pengurus yang sekarang masih blom gape bgt ngedesain, mereka masih ada juga yang malu-malu ngeliput. Soalnya sampe terakhir saya nyusun skripsi, beberapa kegiatan masih saya juga yang diandelin. Mulai dari desain buletin, desain acara, nyari pembicara, dan lain-lain. Tapi ngeliat kekompakkan mereka jadi sedikit lega juga. Mereka udah cinta bgt ama sekretariatannya. Mereka bersemangat untuk meneruskan perjuangan saya dan 2 orang teman saya tadi. Dan itu yang utama. Saya gak bakal lupain saat-saat kita saling menyatukan tangan kita dan berteriak, "semangat! untuk BIMA!"
Saat itu mungkin yang lain gak tau klo dari mata saya menetes airmata haru plus bangga, dan dalam hati saya berucap, "mungkin ini saatnya saya lepas tanggung jawab"
Klo dipikir-pikir, bukan karena saya sudah nggak jadi mahasiswa lagi terus tugas saya selesai. Sekarang saya tergabung dalam dewan penasehat UKPM BIMA. Kerjanya sih gak lebih dari ngajarin anak-anak itu untuk jadi jurnalis ama ngajarin desain grafis.
di UKPM BIMA, saya yang awalnya nothing berkembang jadi something. Entahlah, mungkin ini takdir Allah yang luar biasa, yang patut saya syukuri.
Langganan:
Postingan (Atom)
