Minggu, 14 Juni 2009
3 arah pandang yang harus kita miliki!
1.Melihat ke arah ATAS:
Untuk melihat ke arah atas tentu saja kita harus mendongakkan kepala kita. Pandangan kita akan terarah kepada orang-orang yang memiliki banyak kenikmatan tadi. Untuk kebanyakan orang akan berpandangan bahwa orang yang memiliki nikmat yang banyak pastinya harus memiliki harta yang berlimpah. Ternyata tidak harus begitu, karena kenikmatan itu bisa berupa: Teman-teman yang baik, Pekerjaan yang baik bin halal, Keluarga yang bahagia, Tetangga yang harmonis, Kekayaan hati, dsb. Kepada orang-orang inilah kita harus selalu iri, Ups! maaf, iri dalam tanda kutip ya.
Kita harus selalu mencontoh mereka. Kita harus mengetahui, apa saja sih yang telah mereka lakukan sebelumnya hingga mereka bisa mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tadi. Kemudian kita harus berusaha meniru dan menggapai seperti yang kita cita-citakan.
Kita harus selalu melihat ke arah ATAS agar kita selalu termotivasi dalam melakukan banyak hal. Berusaha kemudian berdoa kepada yang Maha Kuasa agar kita segera mendapatkan kenikmatan yang dijanjikan.
2.Melihat ke arah BAWAH:
Ketika melihat kearah bawah tentu saja kita akan menundukkan kepala kita. Orang-orang berpandangan ketika kita menundukkan kepala, berarti kita berusaha mendekatkan isi otak dengan hati kita. Pandangan ke arah BAWAH akan mengantarkan kita kepada mereka-mereka yang kurang beruntung. Orang-orang miskin dan papa, para anak terlantar, gelandangan, dan lainnya. Kepada mereka inilah kita harus menyebarkan empati. Memberikan apa saja yang telah kita miliki. Dan sekali lagi tidak harus harta. Bisa berupa ilmu yang kita miliki yang kita ajarkan kepada mereka, kasih sayang, pemikiran, dan lain sebagainya.
Pandangan ke arah BAWAH akan membuat kita selalu mensyukuri apapun yang telah kita terima. Walaupun kita belum bisa membeli seisi dunia, tapi kita harus bersyukur bahwa kita masih bisa hidup lebih baik dari mereka yang ada di BAWAH tadi. Dan kamu tahu apa yang akan terjadi ketika kita mensyukuri nikmat? YUP, Sang Maha Esa akan menambahkan nikmatnya kepada kita.
3.Melihat lurus ke arah DEPAN.
Sekaranglah saatnya kita untuk realistis melihat hidup yang kita jalani. Hidup ini bukanlah kemarin atau esok. Tapi hari ini, detik ini. Pandangan ke arah DEPAN mengantarkan kita satu langkah lagi menuju kebahagiaan. Karena kita telah meninggalkan jauh-jauh sesal yang mungkin datang. Kita meninggalkan jauh-jauh prasangka buruk. Karena pandangan ke DEPAN kita bisa lebih optimis. Kita bisa lebih hati-hati dalam melangkah. Kita bisa lebih serius lagi dalam berusaha.
Yup, itu mungkin sedikit sharingku untuk teman-teman semua. Karena kita adalah generasi masa depan yang tidak boleh terus terlena. Kita harus berusaha mewujudkan setiap mimpi yang kita miliki. Pandangan ke arah ATAS, BAWAH, dan DEPAN harus selalu kita lakukan agar kita selalu dalam jalur yang lurus dan benar di sisi-Nya.
Sabtu, 06 Juni 2009
waktu kita sehari hanya 24 jam?
"Setiap kita mempunyai jatah hari yang sama, 24 jam. Tapi mengapa ada orang yang bisa melakukan hal jauh lebih banyak dibandingkan kita? Jawabnya, karena kita MEMILIH untuk menunda sampai mentari bersinar di keesokan hari daripada berbuat di bawah temaram bulan malam ini. Padahal, siapa yang bisa memastikan apakah masih ada mentari esok hari?"
So, gunakan waktu anda dengan sangat-sangat-sangat bijak. Karena demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang saling nasehat-menasehati dalam kebenaran.
Sabtu, 16 Mei 2009
tersenyumlah
Di balik kerasnya laju kehidupan yang harus beliau jalani, ada satu prinsip yang tidak pernah dia hapus. Dia harus bisa membuat dirinya selalu tersenyum dan membuat orang lain tersenyum.
Akhirnya dia beranjak dari bangku sebelahku, dan bergeser ke tengah bis kota yang sedang kita naikin. Dan termainkanlah satu alunan nada yang berasal dari tiupan seruling bambu tadi. Kemudian dia membaca satu prosa yang cukup menggelitik.
Di antara deru bis kota yang bising, sayup-sayup aku mendengarkan dengan seksama prosa yang dia bawakan.
~~~***~~~
Senyum. Tidak ada yang sulit dari sikap tubuh yang satu ini. Kita cukup melengkungkan ujung-ujung bibir kita menjadi seperti bulat sabit dengan memperlihatkan sedikit geligi kita. Tapi tidak cukup itu saja. Mata pun harus pula ikut tersenyum. Tatapan harus hangat dan lembut. Hal itu justru akan menjadi sulit jika dalam pikiran kita berkecamuk beribu macam masalah yang terus menerus kita pikirkan. Raut wajah kita akan tertekuk. Dan apa akibatnya? Orang-orang sekeliling kita pun akan merasakan suasana muram dari kehadiran kita.
Teman satu kantorku mempunyai kebiasaan yang bagus. Tiap pagi dia akan menyapa orang-orang satu kantor, mulai dari OB, Satpam, dan rekan-rekan yang lain.Dia selalu bertanya kabar pada pagi itu. Saat itu aku pun merasakan, kehadirannya membuat kita menjadi ceria dan bersemangat menantang hari. Padahal cuma satu yang dia lakukan, melakukan semua itu sambil menambahkan senyum.
Saya pun mencoba melakukan hal tersebut. Setiap bersepeda pada pagi hari, setiap berpapasan dengan pengguna jalan lainnya, baik itu penjalan kaki atau pengendara sepeda lainnya. Aku selalu tersenyum. Dan ketika orang itu membalas senyum saya, saya merasa menjadi orang yang sangat-sangat bahagia pada pagi itu.
So, tersenyumlah. Karena senyum bisa menularkan kebahagiaan bagi orang lain
Minggu, 10 Mei 2009
Sebuah Kalimat Dalam Cincin Usang
Suatu malam diberanda rumah kos-kosanku di daerah Tangerang. Sambil menyeruput secangkis kopi dan melihat gemintang yang menari-nari di gelap malam, seorang teman kos-ku curhat. Dia bercerita panjang lebar tentang situasi dan kondisi pekerjaannya. Dia merasa begitu mempunyai banyak masalah yang hadir bukan dari dirinya, tapi akibat perbuatan orang lain, sedangkan dia juga kena imbasnya. Beh, kasian ya?
Saat itu aku pun masih bingung, saran apa yang harus kukatakan agar dia merasa tenang. Aku cuma bisa membesarkan hatinya, kalau semua itu pasti akan berlalu.
Beberapa hari kemudian, aku mjenemukan sebuah cerita dalam satu kolom artikel. Begini ceritanya (with editing):
~~~***~~~
"Ada seorang raja di suatu negeri yang mempunyai penasehat yang sangat dia percayai. Dia sangat menyayangi penasehat tersebut bagaikan anaknya sendiri. Hal ini tentu saja tidak disukai oleh orang2 dekat sang raja. Mereka pun berusaha menyingkirkan si penasehat tadi. Mereka membisiki sang raja untuk menyuruh si penasehat mencari sebuah benda. Benda itu harus bisa membuat yang memakai "tidak terlalu senang ketika merasakan kegembiraan, dan tidak terlalu sedih ketika dalam kedukaan".
Kesana kemari si penasehat mencari benda tersebut. Ketika mendapatkan sebuah guci, dia memberikannya pada sang raja, tetapi sang raja masih merasa terlalu gembira ketika gembira dan terlalu sedih ketika sedih. Begitu juga dengan benda-benda lainnya. Pedang, Jubah, Berlian, Emas, dan lain sebagainya.
Dengan sedih, si penasehat menghadap raja. Memohon ijin untuk berkelana ketempat yang jauh untuk mencari benda yang dimaksud. Berbulan-bulan dia dalam pengembaraannya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang tua bijak yang memberikan sebuah benda. Sebuah cincin biasa. Dia memberikan cincin usang itu kepada si penasehat sambil berpesan :"Beritahu rajamu, ketika dia dalam keadaan senang atau sedih, tatap cincin ini"
Dengan langkah ringan dan hati yang gembira, si penasehat pulang menghadap sang raja. Setelah memberikan cincin usang tersebut, dia berlutut dan hanya dapat menatap lantai di hadapannya. Dia takut jika ternyata raja tidak puas dengan pekerjaannya itu. Ketika dia mencuri pandang ke arah raja, dia melihat seulas senyuman terpasang di bibir sang raja. Sang raja lalu berkata, "Anakku, benda seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang"...
~~~***~~~
Aku penasaran, mengapa sebuah cincin usang bisa membuat sang raja merasa puas. Aku pun membaca artikel tersebut sampai habis hingga akhirnya aku tahu jawabnya. Di dalam cincin tersebut ada sebuah kalimat yang harus kita baca ketika kita merasa senang atau sedih. Mau tau kalimat itu bertuliskan apaan? Dan seperti sang raja tadi, aku pun tersenyum ketika mengetahui bahwa tulisan itu berbunyi :"SEMUA AKAN BERAKHIR"
Aku pun juga yakin, begitu teman kos-kosanku itu kuceritakan artikel tadi, dia akan tersenyum lebar penuh keoptimisan.
Minggu, 03 Mei 2009
welcome home quemochi!
Yup, welcome home quemochi. Rumahmu ya disini, dimultiply...
Senin, 09 Maret 2009
sebuah puisi manusia biasa
"mentariMu terbit dan tenggelam
namun citaku akan selalu terbit tanpa terbenam
hanya pertolonganMu yang akan membuatku kuat
melangkahkan kaki dengan penuh semangat"
Kubayangkan langkah apa yang harus kutempuh agar citaku terwujud dengan ridhoNya.
.....
Sebuah takdir mempertemukanku dengan sebuah gudang. Berantakan sekali keadaan yang kutemui. Gelap, pengap, sunyi, senyap. hampir tak ada cahaya. Sempat kuberpikir mengapa aku bisa masuk kedalamnya. Aku keburu masuk kedalamnya dan mulai berpikir untuk lari darinya. Namun kutersadar, mungkin saja kakiku datang ketempat ini karena suatu hal. Yah, mungkin saja ada satu hal yang dapat kuperbuat sebelum pintu itu terbuka :
"mungkin saja aku hanya manusia biasa
yang lemah dan tanpa daya
namun kutahu darimana kekuatan kan kudapat
dan kan kukerahkan untuk dapat memberi manfaat"
Aku tahu, tak mungkin aku datang hanya untuk kesia-siaan. Hei, bukankah manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Mungkin saja gudang ini membutuhkan seseorang untuk membereskannya. Dan, mungkin saja, salah satunya adalah aku.
.....
Kumasih berada dalam gudang itu. Hampir terkunci pintu tuk keluar darinya. Kuketuk setiap pintu pertolongan sambil berharap salah satunya terbuka dan mendorongku keluar. Susah payah kuberpikir apalagi yang harus kuperbuat. Agar tempat ini kembali bersinar :
"ya Tuhan, hanya Engkau pemberi kekuatan
berikan aku ketabahan
dan sinarilah jalanku
agar aku tetap menjadi aku"
Benar, aku tak boleh berubah menjadi setan yang menghalalkan segala cara. Bisa saja kubuat api yang dapat menerangi gudang gelap ini. Namun api itu mungkin saja membesar dan membakar habis gudang ini.
.....
Kutemukan beberapa kunci, beberapa darinya adalah kunci lemari-lemari. Didalam salah satu lemari itu ada banyak alat. Kupilih alat yang sesuai dan mulai kugunakan. Gudang itu mulai terlihat cerah. Seorang teman menghubungiku dan menawarkan bantuan. Mungkin ini jawaban dari Tuhan yang telah lama kutunggu. Kumulai dapat solusi terbaik untuk gudang ini :
"kutahu Kau akan memberi pertolongan
dan itu tak harus selalu datang langsung dari tanganMu"
.....
Satu gudang telah kurapikan. Dan kudapat keluar dengan hati tenang. Walaupun tidak menjadikan gudang itu indah cerah bagai istana raja. Tapi aku puas karena berhasil merubahnya menjadi gudang amal.
"bukan hasil yang Kau lihat dariku
tapi sejauh mana usahaku
dan dengan cara apa
aku berusaha"
Kutak kecewa walau tak sesuai harapan. Karena kutak dapat memberikan kebahagiaan. Bahagia hanya datang dariNya.
.....
Kulangkahkan kembali kakiku yang kadang letih. Kekuatan demi kekuatan kuraih. Perih langkah karena kerikil-kerikil yang tak jua pergi. Bahkan duri kadang menghujam tajam mencoba merintangi langkah kaki ini :
"kucoba tuk terus melangkah
walau kadang ku takut tuk sekedarnya
karena perih pasti kan kudapat
dan hitam atau putih pun tak ada yang pasti"
.....
(kumpulan puisi bercerita yang kuketik ketika dalam kesendirian)
jangan pernah sendiri
BIG QUESTION
Mengapa Kita Bergabung Dalam Barisan Ini ????
Mungkin itu adalah 1 pertanyaan besar bagi kita. BIG QUESTION. Ya, kenapa ? bukankah akan lebih enak jika kita bersantai-santai saja, menikmati hidup tanpa beban, bebas berbuat….. dan mengerjakan apa saja ?? toh kita tidak melakukan penyimpangan besar ???
Atau mungkin ada pertanyaan lain, bukankah kebaikan (baca : dakwah Islam) dapat kita berikan pada orang lain tanpa harus ada dalam barisan.
Sekarang coba kita perhatikan film-film binatang di televisi. Seekor singa akan selalu menerkam Rusa yang sendirian dan terpisah dari kawanannya. Coba renungkan baik-baik…kita memang bukan binatang, tapi setidaknya itulah contoh kongkrit untuk kita renungi dan cari hikmahnya bahwa apabila kita sendirian dalam dakwah akan mudah diterkam oleh musuh-musuh dakwah itu sendiri.
Sesungguhnya dengan kita bergabung dalam barisan dakwah merupakan Rahmat tersendiri bagi kita, bukti cinta dan kasih sayang Allah pada kita. Dimana seharusnya kita menyadari bahwa kematian itu adalah suatu hal yang pasti datang pada setiap makhluk. Dan beradanya kita dalam barisan ini, kita bersama-sama dengan orang-orang yang saleh, orang-orang yang punya pandangan jauh ke depan…Pandangan akhirat.
“ Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar” (QS. At-Taubah : 119)
Pandangan akhirat ??? ya, pandangan yang melampaui ruang dan waktu dunia, tapi kita harus tetap memikirkan juga kehidupan di dunia. Bahwa Hidup dan mati kita karena Allah.
“ Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, adalah karena Tuhan semesta Alam. Tidak ada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan bagiku “ (QS. Al An’am : 162-163)
Sesungguhnya keadaan dunia saat ini harus kita lihat dengan lapang dada…betapa tidak ? karena yang terjadi akan mampu menyesakkan dada. Pacaran, baju-baju yang aduhai, akhlak dan perbuatan yang tercela, “Pokoknya gak intelek banget DAH”. Itulah yang terjadi
Fenomena kejahiliahan ini harus disikapi dengan lebih Cerdas, cerdas dalam menyikapinya, tidak lantas “ tuduh bersalah “ kepada teman-teman kita yang terperosok dalam lembah kejahiliahan, tapi serulah mereka untuk senantiasa memperbaiki diri. Kita bersama memperbaiki diri…Serulah mereka ke jalan Islam sedikit-demi sedikit…perlahan-lahan tanpa disadari hingga akhirnya melepas seluruh atribut kejahiliahan, sama dengan kita yang masih harus “melepas” atribut kejahiliahan yang mungkin masih menempel dalam pribadi-pribadi kita…
Untuk itu dibutuhkan sebuah Kreativitas. Kreatif dong…kita harus kreatif…mengembangkan dakwah selain cerdas juga harus kreatif…kreatif dalam bungkusnya, tapi menyampaikan substansi dengan apa adanya…kreatif dapat didefinisikan sebagai mencipta, jadi kita sebagai aktivis dakwah wajib kreatif dengan ide-ide yang murni dan segar khas aktivis dakwah Islam.OK! tentunya dengan tetap sesuai dengan koridor syariat.
Yang terakhir …dibutuhkan sebuah kepedulian ..kita wajib peduli atas apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita di Palestina, Irak, Thailand, dll. Menaruh simpati yang dalam sebagai sesama muslim. Ukhuwah Islamiyah tidak dibatasi ruang dan waktu, bukan sekedar karena kesamaan sifat dan perasaan, namun lebih sebagai manifestasi dari iman. Siapapun dia, darimanapun asalnya. Juga kepedulian kita pada orang-orang di sekitar kita.
SO????
Kenapa kita tergabung dalam barisan ini ???
“Udah jelas kok dari faktanya”
( Jujur pada hati akan memudahkan kita memahaminya….)
Jumat, 06 Maret 2009
Jangan pernah ingat mati!
Akhir-akhir ini aku begitu takut ketika waktu-waktu setelah Isya dan menjelang merebahkan tubuh serta memejamkan mata untuk tidur. Sebulan bertugas di Konter Layanan Syariah sebuah Bank Syariah di sebuah rumah sakit membuatku banyak merenung tentang arti hidup. Justru setelah melihat banyak kematian yang terjadi.
Mengapa kita masih bisa bernafas, mengapa jantung ini masih memompa darah ke seluruh jaringan tubuh, mengapa paru-paru ini masih bekerja semangat menarik oksigen pangkat dua dan menyalurkannya ke sel darah merah? Mengapa otak ini masih mengirimkan sinyal-sinyal untuk berfikir, mengapa sel syaraf kita masih bisa merasa, mengapa kita masih butuh makan? Semua terjadi bukan karena kita yang menginginkannya. Tetapi Allah-lah yang masih menugaskan kita untuk hadir di dunia yang fana ini. Hidup untuk suatu hal. Yang bisa baik atau juga malah buruk.
Aku takut jika ternyata fungsi tugasku sudah tidak ada lagi. Aku takut jika kontrakku sebagai manusia di putus oleh Allah. Tentu kehadiranku di dunia sudah tidak dibutuhkan lagi.
Aku takut sekali jika ketika aku sudah memejamkan mata dan bermimpi, ternyata yang kulihat bukanlah mimpi, tetapi kenyataan yang sebenarnya, Akhirat!
Aku takut jika ternyata ketika ku terbangun bukan karena suara alarm HP-ku. Tetapi karena pertanyaan-pertanyaan dari malaikat kubur yang aku tergagap untuk menjawabnya.
Aku takut jika ternyata amal-amal-ku di dunia tidak cukup untuk mencapai PassingGrade yang dibutuhkan untuk hidup tentram di alam kubur.
Aku takut jika....
Apakah itu semua membuatku menyesal telah mengetahui kematian? Justru itu semua membuatku semakin yakin, bahwa dunia ini benar-benar fana! Hanya sebatas pandangan mata dan kerja otak yang mengolahnya menjadi gambar-gambar bergerak. Tubuh ini hanya fasilitas kita untuk menggapai hidup yang lebih hakiki. Dan semakin membuatku mendekat kepada Allah. Memohon untuk selalu diberikan jalan untuk memaknai hidup di dunia untuk meraih kenikmatan hidup yang lebih abadi.
Saranku, jangan pernah ingat mati, jika masih ingin berbuat seenaknya di dunia. Jangan pernah ingat mati, jika masih saja berpikiran bahwa hidup yang hakiki adalah di dunia. Jangan pernah ingat mati, jika ingin berteman dengan setan laknatullah.
DAN....jangan ikuti saranku barusan diatas, ikutilah nasehat Rasullah SAW untuk selalu mengingat mati. ^_^
Senin, 02 Maret 2009
Magnet Muhammad
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Religion & Spirituality |
| Author: | Bambang Trim |
Oke...cukup prolognya...di acara jualan buku gede2an itu, saya mampir ke standnya Cicero. Stand yang tampak sangat menarik dan kontras. Karena ada dua buku yang baru saja di terbitkan oleh sang penerbit dan sampul bukunya sangat bertolak belakang. Yang satu berwarna kelam berjudul "Sang Panglima Surga" dan satunya lagi buku tulisan tante saya sendiri yang bernama Tami Ferrasta yang berjudul "That's All" yang berwarna pinky-pinky (yah, namanya juga tante-tante...)---->pasti ntar ada yg komentar "bar, lu promosi bgt sih?"
Oke...oke bukan kedua buku itu yang akan saya bahas. Di stand penerbit Cicero ada satu buku lagi yang bersampul keemasan yang berjudul "Magnet Muhammad Saw". Inilah buku yang akan kita bahas.
Tau buku "The Secret"? atau..."Law of Attraction"? Buku yang menyatakan bahwa, "jika kita menginginkan sesuatu dan mengucapkannya kuat-kuat dalam hati, maka alam semesta akan mendukung kita untuk mewujudkannya". Sebuah teori yang betul tapi tidak benar. Dan di buku "Magnet Muhammad Saw" inilah ke-tidak-benar-an kedua buku itu dijelaskan.
Kenapa Muhammad Saw yang ummi bisa merubah bangsa arab yang jahil menjadi bangsa yang menguasai sepertiga dunia? Mengapa Michael Hart dua kali mencantumkan nama Beliau di urutan pertama dalam daftar tokoh-tokoh yang mempengaruhi dunia? Mengapa para sahabat Beliau bisa menjadi sosok-sosok yang luar biasa? Semua itu karena sosok Muhammad Saw yang jadi panutan.
Pertanyaan selanjutnya, apa yang menjadikan Nabi Muhammad Saw bisa menjadi tokoh yang luar biasa? Dan apakah kita bisa menjadi seperti Beliau (dalam hal perilaku dan sifatnya)? Dan apa yang akan terjadi jika kita bisa mengikuti perilaku Beliau?
Mau tau? beli donk bukunya, murah kok, diskon 30%. Tapi belinya paketan ama bukunya tante saya tadi... cuma sampe tanggal 8 maret...buruan ke Islamic Book Fair ruang kenanga 1...(^_^ ujung-ujungnya promosi...)
apakah ada yang merasa waktu cepat sekali berlalu?
Yup, sekarang sudah 2 maret 2009. Entahlah apa karena saya bekerja dalam ruang sebauh gedung, sehingga saya tidak pernah melihat pergeseran matahari, atau memang waktu cepat sekali berlari? Yang pasti kesempatan kita untuk berbuat baik di tahun 2009 ini hanya tinggal 10 bulan lagi.
"ah...masih lama bar. masih ada 10 bulan, tenang-tenang aja...santai....lagian masih ada taon depan, taon depannya lagi, taon-taon depannya lagi..."
Entahlah, saya sendiri merasa waktu kita untuk hidup didunia pun hanya tinggal sebentar. Kita adalah umat di akhir zaman. Bumi sudah semakin tua dan keropos. Matahari semakin panas menyengat. Tanda-tanda kiamat sudah banyak bermunculan. Masihkah kita bisa bilang bahwa hidup ini selamanya?
Sabtu, 28 Februari 2009
cerita tentang sebuah batu
Alhamdulillah, setelah pusing dengan tingkah ponakan yang gak ada abis-abisnya, dan beristirahat sejenak, saya pergi ke sebuah warnet terdekat untuk menulis sebuah artikel yang telah tersimpan lama di dalam pikiran. Yaitu cerita tentang sebuah benda mati bernama batu.
Batu, nama dari sebuah benda yang benar-benar mati. Dia tidak berkembang, bertumbuh, atau bertambah. Bergerak pun tidak. Sejak dulu kala ketika manusia hanya bisa berbahasa secara isyarat, dia telah dijadikan bermacam-macam alat. Baik untuk memahat, memotong, menulis, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, manfaat dari batu tergantung dari orang yang menggunakannya.
Nah, tapi ada sebuah batu yang berubah fungsi. Sekali lagi, tergantung dari orang yang menggunakannya.
Batu itu ada di jombang. Entah siapa yang mulai, tiba-tiba saja batu itu bisa menyembuhkan orang dengan dicelupkan kedalam air. Air itu diminum, dan (kata orang) bisa untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Entahlah, apa orang itu sembuh karena batu itu dicelupkan kedalam air, atau penyakit itu sembuh karena orang itu sering minum air, atau karena telah tersugesti jadi orang itu tak merasa sakit lagi, atau....
Menurut saya, mungkin saja batu itu memang bisa menyembuhkan, tetapi sebagai orang yang bertakwa saya akan mengembalikan keistimewaan batu itu kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Sama seperti air Zamzam, obat puyer, antibiotik, dan lainnya.
Tetapi tidak bagi orang-orang yang datang ke rumah dukun cilik bernama ponari. Mereka berharap kesembuhan pada batu itu, tok! Disinilah mulai muncul kembali penyakit lama manusia, yaitu penyakit syirik...(naudzubillahi min dzalik...). Dan penyakit inilah yang tidak bisa disembuhkan batu itu...
Sayangnya tidak ada orang-orang yang mengembalikan hakikat keampuhan batu itu kepada Allah. Saya kagum pada seorang dokter yang saya temui di sebuah rumah sakit. Suatu hari dia pernah berkata begini pada saya, "Banyak orang sakit yang datang ke rumah sakit ini. Berharap bisa sembuh setelah dirawat di rumah sakit ini. Padahal ini cuma rumah SAKIT, bukan rumah SAKTI."
Rabu, 18 Februari 2009
teruntuk ade2ku yg masi berjuang d ranah dakwah kampus
(thx to MP...v^_^v)
Senin, 16 Februari 2009
semua hanya untuk-MU
ya Allah,masi blhkah aku mnitipkn prasaan cinta ini lagi?krn hanya Engkaulah tujuanku
Sabtu, 07 Februari 2009
dauroh struktur RMNI
| Start: | Feb 14, '09 10:00a |
| End: | Feb 15, '09 4:00p |
| Location: | kampus B STEI |
Tangerang, kota yang penuh keramahan...
Setelah melalui hari pertama bekerja sebagai OJT Teller di sebuah bank syariah, aku melangkahkan kaki menuju rumah saudara yang saat itu belum kuketahui dimana letaknya. Hanya bermodal alamat dan nomer telepon. Dan ditengah derasnya hujan sore itulah aku menemukan karakter warga tangerang yang penuh dengan keramahan.
Seorang bapak tua pengayuh becak mengantarkanku menuju alamat yang dimaksud. Padahal saat itu dia juga tidak begitu mengenal lokasi alamat yang dimaksud. Bayangkan, seorang bapak tua ditengah hujan yang menderas, mengayuh becak yang mungkin juga sudah layak dipensiunkan. Berkali-kali bertanya alamat pada penjaga warung pinggir jalan. Sampai akhirnya kita menemukan alamat rumah saudaraku itu. Setelah memberikan ongkos kepadanya, aku mengucapkan terimakasih dan permintaan maaf karena telah merepotkan. Tahu apa jawab bapak tua tadi? "Gapapa dek, saya kan juga jadi tau alamat daerah sini", begitu katanya dengan wajah yang tetap tersenyum walaupun lelah. Aku sempat menawarkannya untuk beristirahat sejenak, tapi dia memilih untuk segera mengayuh becaknya lagi di tengah hujan sore yang masih juga deras.
Masih banyak lagi orang-orang yang dengan senyum ramahnya membuatku seakan menjadi tidak asing lagi dengan Tangerang. Ibu-bapak penjaga musholla kecil diterminal cimone tempatku menumpang sholat maghrib. Bapak-bapak penjual mie ayam yang banyak banget bercerita penuh hikmah ketika aku membeli mie ayamnya. Seorang bapak tua yang bercerita akan arti pentingnya bersyukur walau hidup semakin sulit. Pak Toto, bapak tua pengemudi angkot R.14 yang berulangkali menggratiskan ongkos padaku dan juga banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Dan masiiiihhh banyak lagi wajah-wajah ramah yang selalu membuat merasa di rumah sendiri.
Entahlah, mungkin jika senyum mereka tidak pernah hadir, aku akan selalu merasa terasing di kota tangerang. Sebuah keramahan yang kini mungkin sudah punah di Jakarta.
Rabu, 21 Januari 2009
brkhusnudzan pd ALLAH
tp,seorng muslim tdk blh brprasngka buruk pd Allah.cb bc QS.Al-baqarah:216....uda d bc qur'anny masing2?
apa2 yg trjd pd diri qta,baik ato buruk,trimalh tanpa prnh skalipn mnyalahkn siapapn,trmasuk Allah swt.gmn crnya?smua pasti uda tau,tp kdng bnyk yg lupa...;-)
it's the first time
jd tlisan2 sy brikutnya yg ky bhs sms brarti sy tulis lewat media HP soner K608i. so...harap maklum ya
Jumat, 09 Januari 2009
tentang konsistensi perbuatan....
Seekor burung dalam membangun sarang tidak seperti manusia yang cukup membangun rangka, mengaduk semen, mencampurnya dengan batu dan pasir, ditutupi dengan batu bata dan genteng, sudah!
Seekor burung membangun sarangnya dari ranting-ranting kecil yang dia temui ditanah. Dia cari ranting-ranting yang terjatuh dari pohon. Dia ambil satu, kemudian terbang ke tempat dia membangun sarang, dan menaruhnya disitu. Kemudian dia terbang lagi mencari ranting lainnya, dan kembali melakukan hal yang sama, berulang-ulang. Satu persatu dia susun dengan hanya menggunakan paruhnya yang mungil. Dia tata sedemikian rupa hingga akhirnya sarang tersebut nyaman dia jadikan tempat tinggal. Mahasuci Allah yang telah menginspirasi seekor burung yang tak berakal untuk membangun sarangnya layaknya seorang arsitektur.
Contoh lain? Tahu binatang bernama berang-berang? Pasti tahu donk yah. Dia tinggal di sekitar sungai. Dalam membangun sarang dia cukup unik. Pertama dia membendung aliran sungai dengan menebang sebuah pohon kecil dengan giginya. Dia taruh beberapa batang, kemudian dia cari ranting-ranting yang kemudian disusun diatasnya. Kemudian dia menambalnya dengan lumpur yang di tepuk-tepuk dengan ekornya. Tidak itu saja, bahkan dia membangun ruang-ruang didalam bendungan tersebut. Sekalilagi, Maha Suci Allah yang telah menginspirasi berang-berang tadi.
Sekarang ayo kita berbicara tentang sikap konsisten kita akan suatu perbuatan.
Coba kita lakukan hal ini: kita tabung uang kita secara cicil 100 rupiah perhari kedalam sebuah celengan. Hanya seratus rupiah, tidak lebih. Ada yang bisa? Untuk beberapa hari pertama mungkin hal itu bisa kita lakukan. Kita tabung uang kita seratus...seratus...seratus...
Tapi menginjak beberapa hari setelahnya terkadang timbul dalam pikiran kita, "Ah, langsung aja ah saya tabung seribu rupiah. Jadi sampai 10 hari kedepan saya gak usah nabung 100-100 lagi". Nah, disinilah mulai timbul ketidak konsistenan kita.
Begitu juga dalam hal perbuatan baik. Misal: Waktu Ramadhan kemarin. Kita berazzam dalam diri untuk mengkhatamkan Al-qur'an dalam waktu sebulan. Berarti kurang lebih kita membacanya 1 juz perhari, atau 2 lembar selepas sholat fardhu. Tapi, karena banyak hal, banyak dari kita yang lagi-lagi tidak konsisten dengan mengumpulkan bacaan kita di satu waktu. Hingga akhirnya kita lelah dalam bacaan kita yang justru jadi tidak khidmat. Dan mungkin saja target tadi tidak tercapai.
Padahal kita ini manusia, yang diciptakan Allah SWT dengan akal. WHY?
Di kelompok pertemuan mingguan saya dengan teman-teman halaqoh, kami mencoba untuk konsisten melakukan amalan-amalan kebaikan. Dan karena sifat manusia yang sering lupa dan khilaf, kami membuat suatu perjanjian. Satu ikhwah mengingatkan untuk agenda tilawah, satu ikhwah lain ditugaskan untuk mengingatkan agenda shaum sunnah, yang lain lagi mengingatkan untuk sholat sunnah, dan lain untuk ibadah yang lain. Ini kita lakukan, karena upaya kita untuk konsisten secara individu kadang sulit.
Sekedar mengingatkan, sebuah amalan, walaupun kecil, jika dilakukan secara konsisten akan bernilai luar biasa di mata Allah. Dan bisa jadi justru hal kecil tadilah yang akan memberatkan timbangan amal kebajikan kita di hari perhitungan nanti.
Rabu, 07 Januari 2009
insyaAllah jadi touring lagi...
| Start: | Jan 24, '09 06:00a |
| End: | Jan 25, '09 5:00p |
| Location: | salah satu pulau di kepulauan seribu |
Selasa, 06 Januari 2009
sebuah dialog tentang kaya-miskin
“Perbedaan kaya dan miskin itu tipis bung!”.
aku tersentak ketika mendengar pembicaraan orang dimeja depanku. Yap benar, orang itu tidak berbicara denganku. Tapi dia berbicara dengan seseorang yang bersamanya. Aku bukan bermaksud menguping pembicaraan orang lain. Tapi siapa suruh berbicaranya kelewat keras.
”Apa maksudmu?”,kata lawan bicaranya.
“Tipis, asalkan jangan pakai patokan harta”
Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan orang pertama tadi. Kenapa kaya dan miskin berbeda tipis? Dan apa sebenarnya patokan dari kekayaan seseorang?
”Menurutmu, berapa besar sih harta seseorang sampai dia bisa mendapatkan predikat kaya raya?”, tanya orang pertama kepada orang kedua.
”Mmm…lah kok nanya ke aku? Aku sendiri bingung. Megang duit lebih dari seratus ribu aja blom pernah, apalagi berjuta-juta. Kalau kamu nanya ke aku berapa harta seseorang sampai di bisa disebut kaya raya, tentu saja aku tidak tahu”
”Terus kamu pasti tahukan kriteria orang miskin itu seperti apa? eit jangan dijawab dulu. Yang kuminta kriteria orang miskin, bukan fakir miskin yah.”
”Kalau itu tentu saja aku tahu. Kalau fakir miskin itu kan yang gak punya pekerjaan kan?”
”Oke, kamu paham. Sekarang bagaimana kriteria orang miskin menurut kamu”
Kulihat orang kedua berpikir, keningnya berkerut menandakan dia sedang memeras otaknya untuk menemukan jawaban pertanyaan orang pertama. Aku juga jadi ikutan berpikir. Kriteria orang miskin itu apa yah?Baru saja mulutku ingin ikutan nimbrung dalam pembicaraan, orang kedua keburu angkat suara.
”Oke, kujawab langsung. Kriteria orang miskin menurutku adalah orang yang tidak pernah tercukupi kebutuhan hidupnya walau bagaimanapun dimemeras keringatnya. Dengan kata lain, serajin apapun dia, penghasilannya tetap tidak cukup. Bener gak?”
Mmm bener juga yah. Ya tadi aku juga pengen ngomong begitu.
”Yah kurang lebih begitu deh. Nah berarti kalau kriteria orang kaya adalah kebalikan dari kriteria orang miskin yang kamu katakan tadi. Setuju gak?”
”Bisa juga sih…”
Sampai orang kedua tadi aku sedikit tidak menyimak karena ada motor yang ngebut dengan knalpotnya yang meraung-raung. Kusumpahin aja biar celaka. Eh, astagfirullah. Ya ampun, masa aku do’ain orang biar celaka sih. Tapi aku rada kesel kalau denger suara raungan motor yang kelewat cempreng seperti tadi.
Setelah suasana kembali seperti sedia kala. Kupasang lagi kupingku. Kali ini orang pertama bertanya lagi ke orang kedua. ”Terus kebutuhan hidup kamu selama ini tercukupi gak?”
”Mmm…kadang-kadang sih nggak. Terkadang aku ingin beli ini itu, tapi selalu mikir-mikir
dulu. Takut gak cukup uangku sampai habis bulan”
”Tapi kamu selama ini gak selalu ngutang di warung mbok nah kan?”
”Yee…aku sih kalau beli nasi di warung mbok nah selalu bayar”
”Berarti kamu kaya donk…?”
”Ah…gak juga.”
”Lah…kebutuhan hidup kamu kan selalu tercukupi. Kamu gak pernah ngutang atau mengemis minta makan. Walaupun kamu juga harus menahan diri untuk membeli barang-barang keinginanmu. Tapi barang-barang yang ingin kamu beli aku yakin bukan barang primer dan
sekunder kan? Berarti kamu kaya”
”Tunggu-tunggu. Aku jadi punya pandangan baru tentang kriteria orang kaya raya. Oke,
kamu bisa sebut aku kaya. Tapi bukan kaya raya. Kalau kaya raya, apapun barang yang diinginkannya, maka dia akan sanggup membelinya.”
”Wo…wo…wo, kalau aku malah lain. Kalau orang kaya raya menurutku adalah orang yang bingung bagaimana cara menghabiskan uangnya. Karena mau dibelanjakan berapa kalipun malah gak habis-habis. Itu baru orang kaya raya.”
“Oke-oke, terserah kamu saja. Terus tadi diawal kamu bilang. Kaya dan miskin itu beda tipis. Kalau dari kriteria-kriteria tadi kok aku melihat ada ruang pemisah yang lebar banget!”
”Makanya aku juga bilang jangan pake patokan harta”
Orang kedua mengangguk-anggukkan kepala sambil bergumam. Orang pertama menghentikan omongannya sejenak sambil mengangkat gelas berisi air berwarna hitam pekat ke bibirnya yang berhiaskan sedikit jenggot di dagunya. Belum selesai orang pertama menyeruput minumannya. Orang kedua angkat suara lagi.
”Ya udah, jelasin donk maksud itu. Kenapa kaya dan miskin itu hanya berbeda tipis?”
”Yang ku bilang kaya dan miskin kan? Bukannya kaya raya dan miskin. Begini maksudku. Sekarang kamu pasti tahu, kalau ada orang miskin yang saking miskinnya dia gak punya uang sama sekali. Terus dia bekerja tapi tetap saja kebutuhannya tak terpenuhi. Boro-boro soal kebutuhan tersier. Kebutuhan primer dan sekunder pun kadang dia masih bingung.”
”Mmm….terus?”
”Nah, terus kamu tahu donk bagaimana cara dia memenuhi kebutuhannya?”
”Biar kujawab. Kalau orang miskin itu orang yang taat beragama, pasti dia akan bersabar dan terus berusaha.” lamat-lamat orang kedua memaparkan jawabannya. Dengan berhati-hati orang kedua melanjutkan jawabannya, ”Kalau dia orang yang gak begitu taat, paling jadi
tukang minta-minta…”
”Dan kalau orang miskin itu bejat, pasti jadi pencuri, garong, copet dan sejenisnya!”, sambar orang pertama.
”Yah…biar saya donk yang jawab! Curang nih!”
“Abis ngomongnya pelan banget!” kata orang pertama.
“Takut salah! Hehehehe…oke lanjut, sekarang kamu teruskan pemaparan presentasi kamu”
”Yee…kamu udah kaya dosen aja ngomongnya. Oke kulanjutkan. Sekarang begini, kamu pasti tahu kan keadaan orang kaya bagaimana. Apa-apa pasti tercukupi. Tapi. Ada tapinya nih…”
”Iye…iye langsung aja! Gak usah ngegantung gitu. Bikin orang penasaran aja sih? Gimana kalo tiba-tiba aku mati dalam keadaan penasaran begini? kamu mau aku gentayangin, hah?”
”Hehehe…penasaran juga kamu. Begini loh, tapi ada juga orang yang secara materi dia
kaya. Rumah ada, mobil berjejer, makan minum gak usah ditanya lagi deh. Tapi…” orang pertama lagi-lagi menggantung pembicaraannya. Pintar sekali dia membuat orang kedua tambah penasaran. Ya, termasuk aku juga yang dari tadi berhasil menguping pembicaraan mereka berdua tanpa diketahui.
”Eh, kamu nih! Mau kena bogem mentah dari orang yang penasaran yah?”
”Hehehe… jangan marah donk. Aku sengaja bikin kamu penasaran biar kamu menyimak dengan jelas arah pembicaraanku.”
”Dasar sableng!”
”Lanjut lagi…begini loh temanku. Ada juga yang secara materi kaya, tapi kebutuhan dia juga gak tercukupi…”
“Loh kok bisa? Kan dia orang kaya?” orang kedua memotong pembicaraan orang pertama dengan gesitnya.
”Tuh kan, sekarang gantian kamu yang main samber aja!”
”Hehehehe…maaf-maaf!, ah gitu aja ngambek…”
”Lanjut gak nih…?”
”Lanjuuut!”
Akhirnya orang pertama melanjutkan perkataannya.
”Orang kaya model gini sebenernya punya uang sudah melimpah di bank-bank konvensional yang ada. Tanpa memeras keringat pun sebenarnya uang akan datang sendiri. Tapi kamu tahu? Dia juga ikut-ikutan orang miskin yang bejat tadi. Mencuri, merampok, nyopet juga!”
”Ah, becanda…mana ada orang kaya nyopet, merampok bank, mencuri? Gak ada itu…”
Aku juga gak percaya kalau ada orang kaya yang seperti itu. Masa dia udah punya pekerjaan
mapan, tapi masih juga ikut-ikutan merampok? Tapi aku teringat dengan bob hasan, edi tansil, syamsul nursalim, tommy soeharto, para jaksa di kejagung, dan lain-lain…mungkinkah mereka itu masih miskin? Baru saja aku ingin mendengar lanjutan pembicaraan mereka, tapi sayang alarm HP-ku berbunyi. Ternyata aku hanya bermimpi...
