si mpunya lembaran putih

Sabtu, 28 Februari 2009

cerita tentang sebuah batu

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh...
Alhamdulillah, setelah pusing dengan tingkah ponakan yang gak ada abis-abisnya, dan beristirahat sejenak, saya pergi ke sebuah warnet terdekat untuk menulis sebuah artikel yang telah tersimpan lama di dalam pikiran. Yaitu cerita tentang sebuah benda mati bernama batu.

Batu, nama dari sebuah benda yang benar-benar mati. Dia tidak berkembang, bertumbuh, atau bertambah. Bergerak pun tidak. Sejak dulu kala ketika manusia hanya bisa berbahasa secara isyarat, dia telah dijadikan bermacam-macam alat. Baik untuk memahat, memotong, menulis, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, manfaat dari batu tergantung dari orang yang menggunakannya.

Nah, tapi ada sebuah batu yang berubah fungsi. Sekali lagi, tergantung dari orang yang menggunakannya.
Batu itu ada di jombang. Entah siapa yang mulai, tiba-tiba saja batu itu bisa menyembuhkan orang dengan dicelupkan kedalam air. Air itu diminum, dan (kata orang) bisa untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Entahlah, apa orang itu sembuh karena batu itu dicelupkan kedalam air, atau penyakit itu sembuh karena orang itu sering minum air, atau karena telah tersugesti jadi orang itu tak merasa sakit lagi, atau....
Menurut saya, mungkin saja batu itu memang bisa menyembuhkan, tetapi sebagai orang yang bertakwa saya akan mengembalikan keistimewaan batu itu kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Sama seperti air Zamzam, obat puyer, antibiotik, dan lainnya.
Tetapi tidak bagi orang-orang yang datang ke rumah dukun cilik bernama ponari. Mereka berharap kesembuhan pada batu itu, tok! Disinilah mulai muncul kembali penyakit lama manusia, yaitu penyakit syirik...(naudzubillahi min dzalik...). Dan penyakit inilah yang tidak bisa disembuhkan batu itu...

Sayangnya tidak ada orang-orang yang mengembalikan hakikat keampuhan batu itu kepada Allah. Saya kagum pada seorang dokter yang saya temui di sebuah rumah sakit. Suatu hari dia pernah berkata begini pada saya, "Banyak orang sakit yang datang ke rumah sakit ini. Berharap bisa sembuh setelah dirawat di rumah sakit ini. Padahal ini cuma rumah SAKIT, bukan rumah SAKTI."

Rabu, 18 Februari 2009

teruntuk ade2ku yg masi berjuang d ranah dakwah kampus

puaskn diri kalian dgn brdkwah.krn ksmpatn tu hny trbuka lebar slama kalian masi brstatus mhssw.ms dmn beban sbg anak manusia blm bnyk.ms dmn kluangn wkt trsdia ckp mlimpah. n itulah yg tdk kudpt ktka ku mmasuki dunia krja.saat ini mngkn hny MP yg bs kujadikn wasilah tuk brdakwah.taukah kalian?aku rindu saat2 qta dl duduk brng d msjd,saat2 qta saling mlmpar snyum sapa.saat2 qta pusing ama agnda2 kpanitiaan.
(thx to MP...v^_^v)

Senin, 16 Februari 2009

semua hanya untuk-MU

sbtu-minggu kmrn ad kgiatan d kmps.walau dah jd almni,tp ttp aku dtng,coz kbagian tgs ngemciin acr.dan d saat itulah hdr kmbali suatu prasaan yg tlah lama hilang.hdrnya dia mmbuatku sdikit gugup ktika mnybut nama seorang ustadz pmbicara.stlah itu tb2 sj aku sulit utk mmbuat lelucon ringan pnygar suasana yg biasanya kubw ktika aku jd mc.aku jd sdikit srius.ANEH!
ya Allah,masi blhkah aku mnitipkn prasaan cinta ini lagi?krn hanya Engkaulah tujuanku

Sabtu, 07 Februari 2009

dauroh struktur RMNI

Start:     Feb 14, '09 10:00a
End:     Feb 15, '09 4:00p
Location:     kampus B STEI
menyatukan visi dan misi dakwah kampus STEI

Tangerang, kota yang penuh keramahan...

Pertama kali menginjakkan kaki di bumi tangerang pada 14 januari lalu, aku betul-betul merasa terasing. Demi merintis karir, jam 5 pagi aku udah caw dari jakarta, menumpang bis kota P.157 jurusan senen-cikokol. Ditengah rintik hujan, aku beristirahat sejenak di sebuah warung kopi sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Saat itu aku ingat betul, masih pukul 6.30 pagi.
Setelah melalui hari pertama bekerja sebagai OJT Teller di sebuah bank syariah, aku melangkahkan kaki menuju rumah saudara yang saat itu belum kuketahui dimana letaknya. Hanya bermodal alamat dan nomer telepon. Dan ditengah derasnya hujan sore itulah aku menemukan karakter warga tangerang yang penuh dengan keramahan.
Seorang bapak tua pengayuh becak mengantarkanku menuju alamat yang dimaksud. Padahal saat itu dia juga tidak begitu mengenal lokasi alamat yang dimaksud. Bayangkan, seorang bapak tua ditengah hujan yang menderas, mengayuh becak yang mungkin juga sudah layak dipensiunkan. Berkali-kali bertanya alamat pada penjaga warung pinggir jalan. Sampai akhirnya kita menemukan alamat rumah saudaraku itu. Setelah memberikan ongkos kepadanya, aku mengucapkan terimakasih dan permintaan maaf karena telah merepotkan. Tahu apa jawab bapak tua tadi? "Gapapa dek, saya kan juga jadi tau alamat daerah sini", begitu katanya dengan wajah yang tetap tersenyum walaupun lelah. Aku sempat menawarkannya untuk beristirahat sejenak, tapi dia memilih untuk segera mengayuh becaknya lagi di tengah hujan sore yang masih juga deras.
Masih banyak lagi orang-orang yang dengan senyum ramahnya membuatku seakan menjadi tidak asing lagi dengan Tangerang. Ibu-bapak penjaga musholla kecil diterminal cimone tempatku menumpang sholat maghrib. Bapak-bapak penjual mie ayam yang banyak banget bercerita penuh hikmah ketika aku membeli mie ayamnya. Seorang bapak tua yang bercerita akan arti pentingnya bersyukur walau hidup semakin sulit. Pak Toto, bapak tua pengemudi angkot R.14 yang berulangkali menggratiskan ongkos padaku dan juga banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Dan masiiiihhh banyak lagi wajah-wajah ramah yang selalu membuat merasa di rumah sendiri.
Entahlah, mungkin jika senyum mereka tidak pernah hadir, aku akan selalu merasa terasing di kota tangerang. Sebuah keramahan yang kini mungkin sudah punah di Jakarta.