Pertama kali menginjakkan kaki di bumi tangerang pada 14 januari lalu, aku betul-betul merasa terasing. Demi merintis karir, jam 5 pagi aku udah caw dari jakarta, menumpang bis kota P.157 jurusan senen-cikokol. Ditengah rintik hujan, aku beristirahat sejenak di sebuah warung kopi sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Saat itu aku ingat betul, masih pukul 6.30 pagi.
Setelah melalui hari pertama bekerja sebagai OJT Teller di sebuah bank syariah, aku melangkahkan kaki menuju rumah saudara yang saat itu belum kuketahui dimana letaknya. Hanya bermodal alamat dan nomer telepon. Dan ditengah derasnya hujan sore itulah aku menemukan karakter warga tangerang yang penuh dengan keramahan.
Seorang bapak tua pengayuh becak mengantarkanku menuju alamat yang dimaksud. Padahal saat itu dia juga tidak begitu mengenal lokasi alamat yang dimaksud. Bayangkan, seorang bapak tua ditengah hujan yang menderas, mengayuh becak yang mungkin juga sudah layak dipensiunkan. Berkali-kali bertanya alamat pada penjaga warung pinggir jalan. Sampai akhirnya kita menemukan alamat rumah saudaraku itu. Setelah memberikan ongkos kepadanya, aku mengucapkan terimakasih dan permintaan maaf karena telah merepotkan. Tahu apa jawab bapak tua tadi? "Gapapa dek, saya kan juga jadi tau alamat daerah sini", begitu katanya dengan wajah yang tetap tersenyum walaupun lelah. Aku sempat menawarkannya untuk beristirahat sejenak, tapi dia memilih untuk segera mengayuh becaknya lagi di tengah hujan sore yang masih juga deras.
Masih banyak lagi orang-orang yang dengan senyum ramahnya membuatku seakan menjadi tidak asing lagi dengan Tangerang. Ibu-bapak penjaga musholla kecil diterminal cimone tempatku menumpang sholat maghrib. Bapak-bapak penjual mie ayam yang banyak banget bercerita penuh hikmah ketika aku membeli mie ayamnya. Seorang bapak tua yang bercerita akan arti pentingnya bersyukur walau hidup semakin sulit. Pak Toto, bapak tua pengemudi angkot R.14 yang berulangkali menggratiskan ongkos padaku dan juga banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Dan masiiiihhh banyak lagi wajah-wajah ramah yang selalu membuat merasa di rumah sendiri.
Entahlah, mungkin jika senyum mereka tidak pernah hadir, aku akan selalu merasa terasing di kota tangerang. Sebuah keramahan yang kini mungkin sudah punah di Jakarta.
Sabtu, 07 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

4 komentar:
Terkadang Allah selalu memberikan yang lebih dari harapan kita.
Mudah2an antum kerasan di tempat kerja sekarang.
Dan tetap Antusias
yah udah gak usah pulang aja ke jakarta!!!!!
hehehehe becanda om,kalo nt gak pulang ke jakarta gagal dong rihlah...halaaah ^__^
akhirnya aku blajar hdp mandiri d kota ini. skrng aku bnr2 ngekos
Subhanalloh...
YupzZZ That's tRue K'...
Coz Q Ngerasain Jg haL tU...k'tika dTng P'rtama X tak ad 1 Orang Pun Yg Q keNal n' teraSa aSing
tp S'teLah tU Subhanalloh bNyk haL yg bgTu M'nyenangkan d'Sni...
EcHhHh T'rnyata Jg K'temu K2 d' RSGM, Kyana dUnia eMang S'besar daUn keLor gT...Hehehe...
M'mang Tangerang Akhlaqul Karimah Orang2na ManTaB n' Ramah AbiezZZ... ^_^
Posting Komentar