si mpunya lembaran putih

Kamis, 11 Desember 2008

yok kita adu tanding!

Seorang sahabat saya pernah ngasih tausyiah dalam sebuah pertemuan rutin mingguan. Sebuah pesan-pesan yang cukup menyentil bagi kita yang hadir pada saat itu. Mmmm...kurang lebih isinya begini, kalau salah-salah redaksi, itu kesalahan saya sendiri (palingan ntar sahabat saya itu juga bakal komen...)
ehem...saya ulang, kurang lebih prolognya begini :
"Teman-teman, coba renungkan. Pada suatu perlombaan lari, kita telah terdaftar jadi pesertanya. Kemudian ketika pistol tanda perlombaan dimulai, kita mulai berlari. Tapi diantara para peserta, ada juga yang hanya duduk-duduk di garis start. Ada juga yang malah hanya jadi penonton. Kemudian ada seseorang yang berlari kencang sampai garis finish. Tapi ternyata orang itu bukanlah peserta yang telah mendaftar sebelumnya. Dia main nyelonong aja ikut-ikutan berlari, dan menang. Setelah itu, kita cuma bisa pasrah. Terserah juri yang memutuskan, apakah orang itu -yang tidak mendaftar sebelumnya- menjadi pemenang dan mendapat hadiah utama dalam perlombaan lari atau tidak. Dalam nalar kita, tentunya juri tidak akan mengesahkan dia sebagai pemenang. Tapi sekalilagi, itu hak prerogatif juri untuk menentukan siapa juaranya."

Dalam hidup ini, alhamdulillah kita telah terdaftar untuk mengikuti sebuah pertandingan amal sholeh dengan syahadat yang kita lafaskan ulang disetiap sholat kita. Pertanyaannya, sudahkah kita memulai langkah kita digaris start? Jangan-jangan kita hanya jadi duduk-duduk santai atau bahkan hanya jadi penonton. Tapi diluar kita, banyak orang-orang baik yang beramal kebajikan, padahal dua kalimat syahadat itu blom keluar dari bibirnya. Bunda Theresa, Putri Diana, Sidharta Ghautama, dan orang-orang baik lain diluar, mereka berlomba-lomba mengamalkan kebaikan dengan cara mereka sendiri. Entahlah, apakah amal mereka akan diganjar dengan surga oleh Allah atau tidak. Itu hak Allah yang memutuskan.

Oleh karena itu, jangan sia-siakan nomer kepesertaan kita. Untuk kita Allah telah memberikan janji-Nya untuk memberikan ganjaran pada setiap amal kebaikan yang kita lakukan, bahkan yang sekecil biji atom. Asalkan....hanya untuk mengharap ridho-Nya...

7 komentar:

Sutisna Abu'Azkiya mengatakan...

Seandainya ente posting 3minggu yang lalu,mungkin hal ini bisa ana utarakan pd seorang wanita yg sngaja datang ke tempat kerja ana.
awalnya ana kira wanita ini pelanggan ana,ternyata dia mengajak ana dialog ttg agama.
Dan dari dialog itu ada kejelasan,bahwa wanita ini punya misi pemurtadan.
hal ini sudah ana ceritakan ke Qiyadah.
Dan insyaAllah kami akan terus memantau warga di sekitar kami.
Terus terang bar,ana ampir kwalahan dlm menjawab prtanyaan2nya yg kritis. Ditambah pnampilan n tutur kata yg sopan

fuad celebes mengatakan...

heheheh, jangan gitu dong bar...mendahului Allah nt hehehe ^___^

salah redaksinya tuuuh

fuad celebes mengatakan...

terus pantau ya pak jangan kalah ^__^

Islam ya'lu walayu'la alaih, tenang aja pak, yang bener pasti menang...^__^

Nami Hatta mengatakan...

saya pengen berlari sampai finish ...!!!.,
doain saya menang yaa ....insyaAllah kita semua umat muslim menang ,
ganjarannya surga ...Subhanallah .

thanks ...

maulana akbar mengatakan...

sekedar tambahan (sebetulnya bukan tambahan dari ane pribadi, tapi lewat surat cinta yang Allah kirim 1400 tahun yg lalu), Allah akan mengganjar kebaikan hanya yang diniatkan untuk menggapai ridho-Nya. Tanyakan pada diri kita, sudahkah setiap amal kebajikan yang kita lakukan ikhlas hanya untuk ridho-Nya semata?
jgn sampe ada pikiran liberal yang mengatakan semua agama itu sama, sama-sama berbuat baik iya, tapi akhir ceritanya bakal beda.

Sutisna Abu'Azkiya mengatakan...

Setuju...!
agama yg benar disi Allah hanyalah islam

-IUA-PPI- Abang Kalash - mengatakan...

saya mau merenung dulu mas....idenya kaya nih