si mpunya lembaran putih

Senin, 09 Maret 2009

sebuah puisi manusia biasa

Pagi ini kusambut mentari dengan senyum yang terkembang mengikuti batas raut mukaku. Mataku berbinar melihat sebuah karya cipta indah yang terpancar penuh kelembutan. Nyanyian makhluk-makhluk bersayap menciptakan sebuah senandung penuh kedamaian. Dan kokok sang jago menyadarkan seluruh penghuni bumi dari sekedar mimpi. Yah, aku tak ingin hanya sekedar bermimpi :
"mentariMu terbit dan tenggelam
namun citaku akan selalu terbit tanpa terbenam
hanya pertolonganMu yang akan membuatku kuat
melangkahkan kaki dengan penuh semangat"
Kubayangkan langkah apa yang harus kutempuh agar citaku terwujud dengan ridhoNya.

.....

Sebuah takdir mempertemukanku dengan sebuah gudang. Berantakan sekali keadaan yang kutemui. Gelap, pengap, sunyi, senyap. hampir tak ada cahaya. Sempat kuberpikir mengapa aku bisa masuk kedalamnya. Aku keburu masuk kedalamnya dan mulai berpikir untuk lari darinya. Namun kutersadar, mungkin saja kakiku datang ketempat ini karena suatu hal. Yah, mungkin saja ada satu hal yang dapat kuperbuat sebelum pintu itu terbuka :
"mungkin saja aku hanya manusia biasa
yang lemah dan tanpa daya
namun kutahu darimana kekuatan kan kudapat
dan kan kukerahkan untuk dapat memberi manfaat"
Aku tahu, tak mungkin aku datang hanya untuk kesia-siaan. Hei, bukankah manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Mungkin saja gudang ini membutuhkan seseorang untuk membereskannya. Dan, mungkin saja, salah satunya adalah aku.

.....

Kumasih berada dalam gudang itu. Hampir terkunci pintu tuk keluar darinya. Kuketuk setiap pintu pertolongan sambil berharap salah satunya terbuka dan mendorongku keluar. Susah payah kuberpikir apalagi yang harus kuperbuat. Agar tempat ini kembali bersinar :
"ya Tuhan, hanya Engkau pemberi kekuatan
berikan aku ketabahan
dan sinarilah jalanku
agar aku tetap menjadi aku"
Benar, aku tak boleh berubah menjadi setan yang menghalalkan segala cara. Bisa saja kubuat api yang dapat menerangi gudang gelap ini. Namun api itu mungkin saja membesar dan membakar habis gudang ini.

.....

Kutemukan beberapa kunci, beberapa darinya adalah kunci lemari-lemari. Didalam salah satu lemari itu ada banyak alat. Kupilih alat yang sesuai dan mulai kugunakan. Gudang itu mulai terlihat cerah. Seorang teman menghubungiku dan menawarkan bantuan. Mungkin ini jawaban dari Tuhan yang telah lama kutunggu. Kumulai dapat solusi terbaik untuk gudang ini :
"kutahu Kau akan memberi pertolongan
dan itu tak harus selalu datang langsung dari tanganMu"

.....

Satu gudang telah kurapikan. Dan kudapat keluar dengan hati tenang. Walaupun tidak menjadikan gudang itu indah cerah bagai istana raja. Tapi aku puas karena berhasil merubahnya menjadi gudang amal.
"bukan hasil yang Kau lihat dariku
tapi sejauh mana usahaku
dan dengan cara apa
aku berusaha"
Kutak kecewa walau tak sesuai harapan. Karena kutak dapat memberikan kebahagiaan. Bahagia hanya datang dariNya.

.....

Kulangkahkan kembali kakiku yang kadang letih. Kekuatan demi kekuatan kuraih. Perih langkah karena kerikil-kerikil yang tak jua pergi. Bahkan duri kadang menghujam tajam mencoba merintangi langkah kaki ini :
"kucoba tuk terus melangkah
walau kadang ku takut tuk sekedarnya
karena perih pasti kan kudapat
dan hitam atau putih pun tak ada yang pasti"

.....
(kumpulan puisi bercerita yang kuketik ketika dalam kesendirian)

Tidak ada komentar: