si mpunya lembaran putih

Sabtu, 16 Mei 2009

tersenyumlah

Dalam perjalanan pulang dari tangerang ke jakarta pada hari jumat kemarin, di dalam bis kota jurusan cimone-senen, aku bertemu dengan seorang pekerja seni jalanan. Dia, seorang bapak tua dengan penampilan lusuh layaknya gelandangan. Rambut beruban dengan kumis yang tumbuh tidak tertata. Baju yang dekil dengan seruling bambu sebagai temannya sehari-hari. Tapi beliau mempunyai aura yang berbeda dari wajah tuanya itu. Senyumnya yang sungguh-sungguh tulus.
Di balik kerasnya laju kehidupan yang harus beliau jalani, ada satu prinsip yang tidak pernah dia hapus. Dia harus bisa membuat dirinya selalu tersenyum dan membuat orang lain tersenyum.
Akhirnya dia beranjak dari bangku sebelahku, dan bergeser ke tengah bis kota yang sedang kita naikin. Dan termainkanlah satu alunan nada yang berasal dari tiupan seruling bambu tadi. Kemudian dia membaca satu prosa yang cukup menggelitik.
Di antara deru bis kota yang bising, sayup-sayup aku mendengarkan dengan seksama prosa yang dia bawakan.
~~~***~~~
Senyum. Tidak ada yang sulit dari sikap tubuh yang satu ini. Kita cukup melengkungkan ujung-ujung bibir kita menjadi seperti bulat sabit dengan memperlihatkan sedikit geligi kita. Tapi tidak cukup itu saja. Mata pun harus pula ikut tersenyum. Tatapan harus hangat dan lembut. Hal itu justru akan menjadi sulit jika dalam pikiran kita berkecamuk beribu macam masalah yang terus menerus kita pikirkan. Raut wajah kita akan tertekuk. Dan apa akibatnya? Orang-orang sekeliling kita pun akan merasakan suasana muram dari kehadiran kita.
Teman satu kantorku mempunyai kebiasaan yang bagus. Tiap pagi dia akan menyapa orang-orang satu kantor, mulai dari OB, Satpam, dan rekan-rekan yang lain.Dia selalu bertanya kabar pada pagi itu. Saat itu aku pun merasakan, kehadirannya membuat kita menjadi ceria dan bersemangat menantang hari. Padahal cuma satu yang dia lakukan, melakukan semua itu sambil menambahkan senyum.
Saya pun mencoba melakukan hal tersebut. Setiap bersepeda pada pagi hari, setiap berpapasan dengan pengguna jalan lainnya, baik itu penjalan kaki atau pengendara sepeda lainnya. Aku selalu tersenyum. Dan ketika orang itu membalas senyum saya, saya merasa menjadi orang yang sangat-sangat bahagia pada pagi itu.
So, tersenyumlah. Karena senyum bisa menularkan kebahagiaan bagi orang lain

1 komentar:

Dan Nuk mengatakan...

yess senyuuuum
:)